LAPORAN
OBSERVASI
PROBLEMATIKA
PENDIDIKAN ISLAM PADA
PENDIDIKAN
ISLAM FORMAL DAN NON FORMAL
(Studi Kasus di SD N 4 Purwanegra dan Pondok
Pesantren Modern eL-FIRA)

Disusun dan Diajukan Guna Memenuhi TugasIndividu Mata Kuliah: Kapita Selekta Pendidikan Islam
Dosen Pengampu:Rahman Afandi, M.Si.
oleh:
Aswatun Hasanah(1423305182)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
JURUSAN
PENDIDIKAN MADRASAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
A.
PENDAHULUAN
Dalam
agama Islam menuntut ilmu pengetahuan merupakan
suatu kewajiban bagi pemeluknya baik lelaki atau perempuan dimanapun dan kapanpun mulai dari
lahir sampai mati, baik ilmu yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Seperti yang
telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa menginginkan soa-soal
yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya; dan barangsiapa
yang ingin (selamat dan berbahagia) diakhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya
pula; dan wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula” (HR. Bukhari dan
Muslim).
Dewasa ini dunia sedang mengalami
kemajuan yang tak terbendung diseluruh sektor kehidupan. Tak terkecuali bidang pendidikan
yang merupakan unsur penting bagi manusia untuk meningkatkan integritasnya,
keimanannya terhadap Allah SWT karena manusia semakin banyak mengerti tentang
dasar-dasar Ilmu Pendidikanmaka kemungkinan besar mereka akan lebih tau dan
lebih mengerti akan terciptanya seorang hamba yang beriman. Manusia hidup dalam dunia ini tanpa
mengenal tentang Pendidikan Islam, maka jelas bagi mereka sulit untuk
mendekatkan diri kepada Allah SWT, apa lagi menjadi hamba yang beriman. Dalam
kaitannya pernyataan di atas dapat diberikan definisi bahwa kita perlu mempelajari
suatu hal yang lebih dalam tentang Islam. Namun banyak orang yang belum
mengerti apa saja yang menjadi Pendidikan Islam.
Oleh sebab itu, dalam laporan ini akan ada pembahasan
mengenai pendidikan Islam di lembaga pendidikan Formal dan Non Formal
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan adalah merupakan suatu
bimbingan secara sadar oleh pendidik kepada terdidik terhadap perkembangan
jasmani dan rohani terdidik menuju kepribadian yang lebih baik, yang pada
hakikatnya mengarah pada pembentukan manusia yang ideal. Dimana manusia ideal
merupakan manusia yang memiliki akhlak yang sempurna, yang Nampak sejalan
dengan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW yaitu menyempurnakan ahlak yang mulia.[1]
Kemudian
pengertian Pendidikan Islam itu sendiri
menurut Ahmad Supardi adalah pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam
atau tuntunan agama Islam dalam usaha membina dan membentuk pribadi muslim yang
bertakwa kepada Allah kepada Allah SWT., cinta kasih kepada oang tua dan sesama
hidupnya, juga pada tanah airnya sebagai karunia yang diberikan oleh Allah SWT.[2]
Jadi Pendidikan
Islam adalah proses bimbingan yang disengaja secara sadar dilakukan seorang
dewasa (pendidik) secara maksimal untuk mencapai kepribadian muslim yang sesuai
dengan tuntuan ajaran Islam.
2. Pendidikan
Islam Formal dan Non Formal
a)
Pendidikan Islam Formal
Pendidikan
Islam Formal merupakan usaha proses bimbingan yang disengaja dilakukan oleh
orang dewasa (pendidik) secara maksimal dan tanggung jawab untuk mencapai
tujuan pendidikan Islam dari setiap peserta didiknya yang dilakukan di sebuah
tempat, sekolah dengan kurikulum yang sudah ditetapkan.
b)
Pendidikan Islam Non Formal
Pendidikan
Islam Non Formal merupakan usaha proses bimbingan yang disengaja dilakukan oleh
orang dewasa (pendidik) secara maksimal dan tanggung jawab untuk mencapai
tujuan pendidikan Islam dari setiap peserta didiknya yang dilakukan di sebuah
tempat, yang tidak terikat dengan lembaga pemerintah serta pemahaman tentang
agama Islam lebih ditekankan.
Dari
pengertian tersebut, sebenarnya memilliki tujuan yang sama agar mencapai
manusia yang memiliki ahlak yang baik, iman yang kuat dan pemahaman tentang
agama Islam lebih mendalam. Akantetapi, sedikit berbeda dimana pendidikan Islam
formal terikat dengan lembaga pemerintah (Kementrian Agama) dari segi
kurikulum, sarana prasarana, fasilitas dan sebagainya, sedangkan dalam
pendidikan Islam non formal tidak terikat dengan lembaga pemerintah yaitu dari
segi kurikulum, sarana prasaran, dan fasilitas.
3.
Hasil Observasi
1)
Hasil wawancara dan observasi terhadap guru
Pendidikan Agama Islam di SD N 4 Purwanegara, Purwokerto Utara
a.
Identitas Guru Pendidikan Agama Islam
Nama :
Abu Bakar Zuhri, S.Pd.
Tempat, Tanggal Lahir : Purbalingga, 12 April 1971
Alamat :
Sumampir, Purwokerto Timur, Banyumas
Riwayat Pendidikan : - MI N Kicung
Krangean
-
MTS N Karanganyar
-
PGA tahun 1989 (santri Ponpes Al-Ikhsan Beji)
-
STAIN Purwokerto D2 PAI (2002)
-
UMP S1 PAI (2013)
b.
Motivasi menjadi guru Pendidikan Agama Islam
- Karena sebagai guru kelas pada saat
melakukan pendidikan PGA di MI Ma’arif Beji kemudian ingin masa depannya lebih
cerah
c.
Kendala
- Perencanaan pembangunan di MI belum
terencana secara baik dari segi tata letak dan lahan kurang dukungan dari
kementrian agama (pemerintah).
- Kesejahteraan guru belum sepenuhnya
diperhatikan oleh kementerian agama sehingga semangat guru kurang memilki
ruh-ruh untuk mendidik secara maksimal.
- Kualitas guru di MI perlu
diperhatiak serta ditingkatkan mengingat di MI terdapat poin penting yakni mata
pelajaran agama lebih ditekankan sekalipun mata pelajaran umum juga diutamakan.
- Dukungan serta partisipasi dari
lingkungan sekitar MI perlu dieratkan baik dari pihak MI ke lingkungan
sekitarnya.
d.
Upaya yang sudah dilakukan guru Pendidikan Agama Islam
terhadap Pendidikan Islam
- Membentuk kelompok kecil untuk
belajar baca Al-Qur’an
- Mengusulkan penambahan tenega ahli
untuk belajar baca Al-Qur’an mengingat banyak peserta didik yang belum bisa
baca Al-Qur’an bahkan ada yang belum mengenal huruf Hijaiyah.
- Memperbanyak literatur-literatur
pendukung pembelajaran karena terbatasnya jam pelajaran di kelas
- Melakukan pembiasaan-pembiasaan ibadah
yang dilakukan secara bersama antara guru dengan peserta didik.
- Mengontrol kebiasaan-kebiasaan
pengamalan ibadah peserta didik di rumah melalui komunikasi dengan orang tua
peserta didik.
e.
Harapan untuk pendidikan Islam
- Untuk lulusan sarjana Pendidikan
Agama Islam sudah dapat menguasai baca tulis Al-Qur’an
- Untuk guru Pendidikan Agama Islam
dapat menguasai materi-materi ajaran agama lebih mendalam
- Untuk guru Pendidikan Agama Islam
dapat menjadi contoh dan tauladan yang baik bagi peserta didik, lingkungan, dan
masyarakat
2)
Hasil Wawancara dan observasi terhadap pondok pesantren
modern eL-Fira
a. Identitas Pondok Poesantren
Nama :
Pondok Pesantren Modern eL-FIRA
Nama Pemilik :
Dr. KH Fathul Aminudin Aziz, MM.
Alamat : Jl. Ahmad Yani Gang Bayem IV,
Purwanegara, Purwokerto Utara
b. Motivasi mendirikan Pondok Pesantren
Ingin menebarkan serta melestarikan agama Islam di
lingkungan karang anjing gang bayem IV
c. Kendala
- Lahan yang kurang sehingga untuk
tata letak bangunan masih semprawut
- Dukungan masyarakat yang masih
kurang (masyarakat masih apatis)
- Kurangnya tenaga pengajar yang
berkompeten sehingga mengharuskan mengambil dari luar
d. Keluhan Santri
- Tenaga pengajar yang masih kurang
sehingga motivasi untuk belajar juga kurang
- Fasilitas yang masih sangat kurang
mengingat kebutuhan di pondok pesantren digunakan oleh banyak santri
- Kurang tanggapnya pihak pengasuh
terhadap suara-suara santri
e. Upaya yang dilakukan pihak pondok
Pesantren
- Mencari tenaga pengajar pengganti
ketika tenaga pengajar yang semula mengundurkan diri
- Mempertimbangkan suara-suara santri
dengan berbagai hal yang bersinggungan dengan pondok pesantren
- Selalu berusaha memenuhi fasilitas
yang diperlukan oleh kebutuhan santri
f. Harapan Santri
- Apa yang disampaikan santri segera
direalisasikan
- Lebih tanggap dengan suara santri
- Semoga lebih baik lagi dalam segala
hal
g. Harapan Pengasuh
- Semoga bisa memberi manfaat yang
berdampak di lingkungan masyarakat
- Masyarakat dapat aktif ketika pondok
melakukan kegiatan sehingga timbul kontak sosial
- Santri dapat menyesuaikan dengan
lingkungan yang ada
- Semoga dapat merealisasikan
harapan-harapan santri dan mimpi untuk eL-Fira lebih baik lagi dan tentunya
lebih maju lagi.
4. Analisis
Dari observasi dan wawancara yang telah dilakukan, menurut
penulis perlu adanya wadah yang secara konsisten mengontrol secara berkala di
bagian pondok pesantren dimana keberadaan pondok pesantren sebenarnya perlu
didukung dari segi pemerintah, dan masyarakat. Dimana mengingat di dalam sistem
pondok banyak sekali manfaatnya dari segi kebiasaan santri atau murid terbiasa
dengan antrian yang menjadi tradisi di Indonesia sendiri. Kemudian etika-etika
terhadap orang yang lebih tua masih membudaya sehingga perlu dilestarikan
sampai kapanpun mengingat di era sekarang banyak sekali remaja yang kurang
memilliki perilaku sopan santun terhadap yang lebih tua, kemudian dari segi
pembiasaan pengamalan ibadahnya di pondok pesantren sangatlah bagus mengingat
setiap kali jamaah dipantau mengaji dikontrol dengan absen. Hal tersebut
menjadi pembentukan karakter setiap santri untuk lebih baik lagi menuju tujuan
akhir pendidikan Islam sendiri yakni akhirat.
Kemudian kontak sosial antara santri yang satu dengan yang
lain juga membudaya, sikap saling tolong menolong, kerjasama dan lainnya.
Akantetapi akan menjadi kurang, akan menjadi timpang ketika peran ataupun
fungsi pondok pesantren tidak terwadahi dengan baik. Seperti contohnya di
pondok pesantren modern eL-FIRA sendiri dimana dari pihak pondok baru bisa memenuhi
80% kebutuhan santrinya kemudian pantauan dari lembaga pemerintah tidak ada.
Hal tersebut akan menjadi timpang karena tidak adanya
dukungan pemerintah terhadap keberadaan pondok pesantren itu sendiri sedangkan
kemanfaatannya untuk disandingkan dengan zaman sekarang sangat relevan sebagai
penangkal arus globalisasi yang amat sangat cepat itu. Menurut penulis
menimbang ketika fasilitas, sara prasarana dalam suatu kegiatan kurang mendapat
perhatian maka kegiatan di pondok pesantren tersebut akan cacat, akan
berkurang.
Dengan demikian perlu pengkajian ulang dari segi peran
pemerintah terhadap pondok pesantren yang ada, dimana menurut penulis sendiri
sebenarnya pondok pesantren sangatlah memabntu generasi-generasi Indonesia yang
lebih baik dan lebih maju tentunya.
Kemudian analisis observasi Pendidikan Agama Islam yang ada
di SD N 4 Purwanegara, menurut penulis perlu adanya pelatihan dan diklat-diklat
untuk guru pendidikan agama islam karena banyak guru pendidikan agama islam
yang masih pasrah dengan keadaan yang ada. Sedangkan guru di masa sekarang
dituntut untuk lebih kretaif, inovatif mengingat sekarang arus globalisasi
sangatlah cepat dan sebagai guru pendidikan agama islam diharapkan dapat
menangkal para generasi Indonesia dari pengaruh globalisasi.
Islam sangat memotivasi umatnya untuk
memfungsikan akal dan rasa secara seimbang. Sesungguhnya tidak ada dikotomi
iman dan ilmu pengetahuan dalam Islam karena keduanya merupakan dua materi yang
saling mendukung satu sama lain. Menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan
dalam Islam merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan muslim yang beriman
akan menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT dengan sebaik-baiknya.
Oleh karena itulah antara iman dan ilmu tidak dapat dipisahkan dalam Islam.
Bahkan perintah Allah SWT yang pertama kepada umat Islam melalui rasul-Nya adalah perintah untuk menuntut ilmu. Firman-Nya dalam Al-Quran:
Bahkan perintah Allah SWT yang pertama kepada umat Islam melalui rasul-Nya adalah perintah untuk menuntut ilmu. Firman-Nya dalam Al-Quran:
“(1) Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu Yang menciptakan, (2)Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
(3)Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, (4)Yang mengajar (manusia) dengan
perantaran kalam, (5)Dia
Menurut Dr. Aidh Al-Qarni (2006) bahwa
ilmu menjadikan orang dewasa, lapang dada dan bijaksana karena tabir penghalang
di depan jiwa terbuka sehingga membawanya keluar dari rasa susah, gundah
gulana, dan kesedihan.
Pendidikan, karena termasuk ke dalam
usaha atau tindakan untuk membentuk manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup
muamalah. Pendidikan sangat penting karena ia ikut menentukan corak dan
bentuk amal dan kehidupan manusia, baik
pribadi maupun masyarakat. Didalam al-Quran terdapat banyak ajaran yang berisi
prinsip-prinsip berkenaan dengan kegiatan atau usaha pendidikan itu sendiri.[3]
Sekedar contoh, misalnya mengenai proses pembentukan manusia untuk Fakultas Kedokteran
yang terjemahannya( lebih kurang) sebagai berikut,”Dialah (Allah) yang
menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari mani yang menjadi segumpal darah.
Kemudian Dialah yang mengeluarkan kamu ( dari rahim wanita ) menjadi bayi
sehingga kamu dewasa dan menjadi tua…” (QS. Al Mukmin (40) kalimat pertama ayat
67 ). Dan, kalau manusia ciptakan Allah itu sakit, Allah lah yang
menyembuhkannya, demikian maksud surat asy-Syu’ara (26):80. Dalam Al-Quran
banyak ditemukan dorongan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi demi
kesejahteraan umat manusia. Bahkan,
Al-Quran yang pertama turun pun mengisyaratkan pentingnya strategi dalam
mencari ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cara membaca alam ciptaan Allah.
Dorongan untuk menguasai iptek, antara lain disebutkan dalam ayat-ayat
berikut: “Maka apakah orang yang
mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama
dengan orang yang buta? Hanya orang yang berakal yang dapat mengambil
pelajaran. (QS. Ar-Ra’d/13:19). Dalam Firman Allah yang lain yaitu dalam QS.
Az-Zumar/39:9 yang artinya: “…katakanlah, ‘Apakah sama orang yang mengetahui
dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang yang berakal
sehat yang dapat menerima pelajaran. Al Quran banyak menghimbau manusia untuk
menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain kedua ayat
diatas masih banyak lagi dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi yang
diisyaratkan Al-Quran seperti dalam kedokteran, farmasi, pertanian, atau
astronomi yang bermanfaat bagi kajuan dan kesejahteraan umat manusia.[4]
Dengan demikian jelaslah kiranya
bahwa dalam pendidikan Islam harus mengunakan Al Qur’an sebagai sumber utama
dalam merumuskan beberapa teori tentang pendidikan islam. Atau dengan kata lain
, pendidikan Islam harus berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an yang penafsirannya dapat dilakukan
berdasarkan ijtihad disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Pendidikan,
memiliki peran strategis sebagai sarana human resources dan human investment.
Selain bertujuan menumbuh kembangkan kehidupan yang lebih baik, pendidikan juga
telah nyata-nyata ikut mewarnai dan menjadi landasan moral dan etik dalam
prosespemberdayaan jati diri bangsa. Sedemikian pentingnya pendidikan, terutama
pendidikan agama Islam, maka wajar jika hakekat pendidikan merupakan proses
humanisasi, yang berimplikasi pada proses kependidikan dengan orientasi
pengembangan aspek-aspek kemanusiaan manusia, yakni aspek fisik-biologis dan
rohaniah-psikologis.Aspek rohaniah-psikologis inilah yang
dicoba didewasakan dan di-insan kamil-kan melalui
pendidikan sebagai elemen
positif dalam pembangunan
kehidupan yang berkeadaban. Dari pemikiran ini, maka pendidikan merupakan tindakan sadar dengan tujuan
memelihara dan mengembangkan fitrah
serta potensi (sumber daya) insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya (
insan kamil ).
C.
KESIMPULAN
Pendidikan, karena termasuk ke dalam usaha atau
tindakan untuk membentuk manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup muamalah.
Pendidikan sangat penting karena ia ikut menentukan corak dan bentuk amal dan kehidupan manusia, baik pribadi
maupun masyarakat. Didalam al-Quran terdapat banyak ajaran yang berisi
prinsip-prinsip berkenaan dengan kegiatan atau usaha pendidikan itu sendiri.
Pendidikan, memiliki peran strategis sebagai
sarana human resources dan human investment. Selain bertujuan menumbuh
kembangkan kehidupan yang lebih baik, pendidikan juga telah nyata-nyata ikut
mewarnai dan menjadi landasan moral dan etik dalam prosespemberdayaan jati diri
bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Supardi, Ahmad. 1992. Sejarah dan Filsafat
Pendidian Islam. Bandung: Angkasa.
Daradjat, Zakiah. 2008.Ilmu Pendidikan Islam,Jakarta:Bumi
Aksara.
Fauziyah, Lilis dan Andi
Setyawan.2009.Kebenaran Al-Quran dan Hadis,Solo,PT
Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Aziz,Amka Abdul. 2012.Hati Pusat Pendidikan
Karakter. Cempaka Putih, Klaten.
Departemen Agama RI. 2006.Al-Qur’an dan
Terjemahnya. Pustaka Agung Harapan, Jakarta,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar