Sabtu, 06 Mei 2017

1423305182

LAPORAN OBSERVASI
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM PADA
PENDIDIKAN ISLAM FORMAL DAN NON FORMAL
(Studi Kasus di SD N 4 Purwanegra dan Pondok Pesantren Modern eL-FIRA)


Description: Description: D:\IAIN\LOGO IAIN.jpg
Disusun dan Diajukan Guna Memenuhi TugasIndividu Mata Kuliah: Kapita Selekta Pendidikan Islam
Dosen Pengampu:Rahman Afandi, M.Si.

 oleh:
Aswatun Hasanah(1423305182)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN MADRASAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2017
A.     PENDAHULUAN
Dalam agama Islam menuntut ilmu pengetahuan merupakan suatu kewajiban bagi pemeluknya baik lelaki atau perempuan dimanapun dan kapanpun mulai dari lahir sampai mati, baik ilmu yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Seperti yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa menginginkan soa-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya; dan barangsiapa yang ingin (selamat dan berbahagia) diakhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dewasa ini dunia sedang mengalami kemajuan yang tak terbendung diseluruh sektor kehidupan. Tak terkecuali bidang pendidikan yang merupakan unsur penting bagi manusia untuk meningkatkan integritasnya, keimanannya terhadap Allah SWT karena manusia semakin banyak mengerti tentang dasar-dasar Ilmu Pendidikanmaka kemungkinan besar mereka akan lebih tau dan lebih mengerti akan terciptanya seorang hamba yang beriman. Manusia hidup dalam dunia ini tanpa mengenal tentang Pendidikan Islam, maka jelas bagi mereka sulit untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, apa lagi menjadi hamba yang beriman. Dalam kaitannya pernyataan di atas dapat diberikan definisi bahwa kita perlu mempelajari suatu hal yang lebih dalam tentang Islam. Namun banyak orang yang belum mengerti apa saja yang menjadi Pendidikan Islam.
Oleh sebab itu, dalam laporan ini akan ada pembahasan mengenai pendidikan Islam di lembaga pendidikan Formal dan Non Formal




















B.     PEMBAHASAN
1.      Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan adalah merupakan suatu bimbingan secara sadar oleh pendidik kepada terdidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani terdidik menuju kepribadian yang lebih baik, yang pada hakikatnya mengarah pada pembentukan manusia yang ideal. Dimana manusia ideal merupakan manusia yang memiliki akhlak yang sempurna, yang Nampak sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW yaitu menyempurnakan ahlak yang mulia.[1]
Kemudian pengertian Pendidikan Islam itu sendiri  menurut Ahmad Supardi adalah pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau tuntunan agama Islam dalam usaha membina dan membentuk pribadi muslim yang bertakwa kepada Allah kepada Allah SWT., cinta kasih kepada oang tua dan sesama hidupnya, juga pada tanah airnya sebagai karunia yang diberikan oleh Allah SWT.[2]
Jadi Pendidikan Islam adalah proses bimbingan yang disengaja secara sadar dilakukan seorang dewasa (pendidik) secara maksimal untuk mencapai kepribadian muslim yang sesuai dengan tuntuan ajaran Islam.
2.      Pendidikan Islam Formal dan Non Formal
a)      Pendidikan Islam Formal
Pendidikan Islam Formal merupakan usaha proses bimbingan yang disengaja dilakukan oleh orang dewasa (pendidik) secara maksimal dan tanggung jawab untuk mencapai tujuan pendidikan Islam dari setiap peserta didiknya yang dilakukan di sebuah tempat, sekolah dengan kurikulum yang sudah ditetapkan.
b)      Pendidikan Islam Non Formal
Pendidikan Islam Non Formal merupakan usaha proses bimbingan yang disengaja dilakukan oleh orang dewasa (pendidik) secara maksimal dan tanggung jawab untuk mencapai tujuan pendidikan Islam dari setiap peserta didiknya yang dilakukan di sebuah tempat, yang tidak terikat dengan lembaga pemerintah serta pemahaman tentang agama Islam lebih ditekankan.
            Dari pengertian tersebut, sebenarnya memilliki tujuan yang sama agar mencapai manusia yang memiliki ahlak yang baik, iman yang kuat dan pemahaman tentang agama Islam lebih mendalam. Akantetapi, sedikit berbeda dimana pendidikan Islam formal terikat dengan lembaga pemerintah (Kementrian Agama) dari segi kurikulum, sarana prasarana, fasilitas dan sebagainya, sedangkan dalam pendidikan Islam non formal tidak terikat dengan lembaga pemerintah yaitu dari segi kurikulum, sarana prasaran, dan fasilitas.

3.      Hasil Observasi
1)   Hasil wawancara dan observasi terhadap guru Pendidikan Agama Islam di SD N 4 Purwanegara, Purwokerto Utara
a.       Identitas Guru Pendidikan Agama Islam
Nama                                 : Abu Bakar Zuhri, S.Pd.
Tempat, Tanggal Lahir      : Purbalingga, 12 April 1971
Alamat                              : Sumampir, Purwokerto Timur, Banyumas
Riwayat Pendidikan         : -     MI N Kicung Krangean
-          MTS N Karanganyar
-          PGA tahun 1989 (santri Ponpes Al-Ikhsan Beji)
-          STAIN Purwokerto D2 PAI (2002)
-          UMP S1 PAI (2013)
b.      Motivasi menjadi guru Pendidikan Agama Islam
-   Karena sebagai guru kelas pada saat melakukan pendidikan PGA di MI Ma’arif Beji kemudian ingin masa depannya lebih cerah
c.       Kendala
-   Perencanaan pembangunan di MI belum terencana secara baik dari segi tata letak dan lahan kurang dukungan dari kementrian agama (pemerintah).
-   Kesejahteraan guru belum sepenuhnya diperhatikan oleh kementerian agama sehingga semangat guru kurang memilki ruh-ruh untuk mendidik secara maksimal.
-   Kualitas guru di MI perlu diperhatiak serta ditingkatkan mengingat di MI terdapat poin penting yakni mata pelajaran agama lebih ditekankan sekalipun mata pelajaran umum juga diutamakan.
-   Dukungan serta partisipasi dari lingkungan sekitar MI perlu dieratkan baik dari pihak MI ke lingkungan sekitarnya.
d.      Upaya yang sudah dilakukan guru Pendidikan Agama Islam terhadap Pendidikan Islam
-   Membentuk kelompok kecil untuk belajar baca Al-Qur’an
-   Mengusulkan penambahan tenega ahli untuk belajar baca Al-Qur’an mengingat banyak peserta didik yang belum bisa baca Al-Qur’an bahkan ada yang belum mengenal huruf Hijaiyah.
-   Memperbanyak literatur-literatur pendukung pembelajaran karena terbatasnya jam pelajaran di kelas
-   Melakukan pembiasaan-pembiasaan ibadah yang dilakukan secara bersama antara guru dengan peserta didik.
-   Mengontrol kebiasaan-kebiasaan pengamalan ibadah peserta didik di rumah melalui komunikasi dengan orang tua peserta didik.
e.       Harapan untuk pendidikan Islam
-   Untuk lulusan sarjana Pendidikan Agama Islam sudah dapat menguasai baca tulis Al-Qur’an
-   Untuk guru Pendidikan Agama Islam dapat menguasai materi-materi ajaran agama lebih mendalam
-   Untuk guru Pendidikan Agama Islam dapat menjadi contoh dan tauladan yang baik bagi peserta didik, lingkungan, dan masyarakat

2)   Hasil Wawancara dan observasi terhadap pondok pesantren modern eL-Fira
a.       Identitas Pondok Poesantren
Nama                       : Pondok Pesantren Modern eL-FIRA
Nama Pemilik          : Dr. KH Fathul Aminudin Aziz, MM.
Alamat                     : Jl. Ahmad Yani Gang Bayem IV, Purwanegara,    Purwokerto Utara
b.      Motivasi mendirikan Pondok Pesantren
Ingin menebarkan serta melestarikan agama Islam di lingkungan karang anjing gang bayem IV
c.       Kendala
-       Lahan yang kurang sehingga untuk tata letak bangunan masih semprawut
-       Dukungan masyarakat yang masih kurang (masyarakat masih apatis)
-       Kurangnya tenaga pengajar yang berkompeten sehingga mengharuskan mengambil dari luar
d.      Keluhan Santri
-       Tenaga pengajar yang masih kurang sehingga motivasi untuk belajar juga kurang
-       Fasilitas yang masih sangat kurang mengingat kebutuhan di pondok pesantren digunakan oleh banyak santri
-       Kurang tanggapnya pihak pengasuh terhadap suara-suara santri
e.       Upaya yang dilakukan pihak pondok Pesantren
-       Mencari tenaga pengajar pengganti ketika tenaga pengajar yang semula mengundurkan diri
-       Mempertimbangkan suara-suara santri dengan berbagai hal yang bersinggungan dengan pondok pesantren
-       Selalu berusaha memenuhi fasilitas yang diperlukan oleh kebutuhan santri
f.       Harapan Santri
-       Apa yang disampaikan santri segera direalisasikan
-       Lebih tanggap dengan suara santri
-       Semoga lebih baik lagi dalam segala hal
g.      Harapan Pengasuh
-       Semoga bisa memberi manfaat yang berdampak di lingkungan masyarakat
-       Masyarakat dapat aktif ketika pondok melakukan kegiatan sehingga timbul kontak sosial
-       Santri dapat menyesuaikan dengan lingkungan yang ada
-       Semoga dapat merealisasikan harapan-harapan santri dan mimpi untuk eL-Fira lebih baik lagi dan tentunya lebih maju lagi.

4.      Analisis
Dari observasi dan wawancara yang telah dilakukan, menurut penulis perlu adanya wadah yang secara konsisten mengontrol secara berkala di bagian pondok pesantren dimana keberadaan pondok pesantren sebenarnya perlu didukung dari segi pemerintah, dan masyarakat. Dimana mengingat di dalam sistem pondok banyak sekali manfaatnya dari segi kebiasaan santri atau murid terbiasa dengan antrian yang menjadi tradisi di Indonesia sendiri. Kemudian etika-etika terhadap orang yang lebih tua masih membudaya sehingga perlu dilestarikan sampai kapanpun mengingat di era sekarang banyak sekali remaja yang kurang memilliki perilaku sopan santun terhadap yang lebih tua, kemudian dari segi pembiasaan pengamalan ibadahnya di pondok pesantren sangatlah bagus mengingat setiap kali jamaah dipantau mengaji dikontrol dengan absen. Hal tersebut menjadi pembentukan karakter setiap santri untuk lebih baik lagi menuju tujuan akhir pendidikan Islam sendiri yakni akhirat.
Kemudian kontak sosial antara santri yang satu dengan yang lain juga membudaya, sikap saling tolong menolong, kerjasama dan lainnya. Akantetapi akan menjadi kurang, akan menjadi timpang ketika peran ataupun fungsi pondok pesantren tidak terwadahi dengan baik. Seperti contohnya di pondok pesantren modern eL-FIRA sendiri dimana dari pihak pondok baru bisa memenuhi 80% kebutuhan santrinya kemudian pantauan dari lembaga pemerintah tidak ada.
Hal tersebut akan menjadi timpang karena tidak adanya dukungan pemerintah terhadap keberadaan pondok pesantren itu sendiri sedangkan kemanfaatannya untuk disandingkan dengan zaman sekarang sangat relevan sebagai penangkal arus globalisasi yang amat sangat cepat itu. Menurut penulis menimbang ketika fasilitas, sara prasarana dalam suatu kegiatan kurang mendapat perhatian maka kegiatan di pondok pesantren tersebut akan cacat, akan berkurang.
Dengan demikian perlu pengkajian ulang dari segi peran pemerintah terhadap pondok pesantren yang ada, dimana menurut penulis sendiri sebenarnya pondok pesantren sangatlah memabntu generasi-generasi Indonesia yang lebih baik dan lebih maju tentunya.
Kemudian analisis observasi Pendidikan Agama Islam yang ada di SD N 4 Purwanegara, menurut penulis perlu adanya pelatihan dan diklat-diklat untuk guru pendidikan agama islam karena banyak guru pendidikan agama islam yang masih pasrah dengan keadaan yang ada. Sedangkan guru di masa sekarang dituntut untuk lebih kretaif, inovatif mengingat sekarang arus globalisasi sangatlah cepat dan sebagai guru pendidikan agama islam diharapkan dapat menangkal para generasi Indonesia dari pengaruh globalisasi.
Islam sangat memotivasi umatnya untuk memfungsikan akal dan rasa secara seimbang. Sesungguhnya tidak ada dikotomi iman dan ilmu pengetahuan dalam Islam karena keduanya merupakan dua materi yang saling mendukung satu sama lain. Menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam Islam merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan muslim yang beriman akan menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itulah antara iman dan ilmu tidak dapat dipisahkan dalam Islam.
Bahkan perintah Allah SWT yang pertama kepada umat Islam melalui rasul-Nya adalah perintah untuk menuntut ilmu. Firman-Nya dalam Al-Quran:
“(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, (2)Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3)Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, (4)Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, (5)Dia
Menurut Dr. Aidh Al-Qarni (2006) bahwa ilmu menjadikan orang dewasa, lapang dada dan bijaksana karena tabir penghalang di depan jiwa terbuka sehingga membawanya keluar dari rasa susah, gundah gulana, dan kesedihan.
Pendidikan, karena termasuk ke dalam usaha atau tindakan untuk membentuk manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup muamalah. Pendidikan sangat penting karena ia ikut menentukan corak dan bentuk  amal dan kehidupan manusia, baik pribadi maupun masyarakat. Didalam al-Quran terdapat banyak ajaran yang berisi prinsip-prinsip berkenaan dengan kegiatan atau usaha pendidikan itu sendiri.[3] Sekedar contoh, misalnya mengenai proses pembentukan manusia untuk Fakultas Kedokteran yang terjemahannya( lebih kurang) sebagai berikut,”Dialah (Allah) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari mani yang menjadi segumpal darah. Kemudian Dialah yang mengeluarkan kamu ( dari rahim wanita ) menjadi bayi sehingga kamu dewasa dan menjadi tua…” (QS. Al Mukmin (40) kalimat pertama ayat 67 ). Dan, kalau manusia ciptakan Allah itu sakit, Allah lah yang menyembuhkannya, demikian maksud surat asy-Syu’ara (26):80. Dalam Al-Quran banyak ditemukan dorongan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi demi kesejahteraan umat  manusia. Bahkan, Al-Quran yang pertama turun pun mengisyaratkan pentingnya strategi dalam mencari ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cara membaca alam ciptaan Allah. Dorongan untuk menguasai iptek, antara lain disebutkan dalam ayat-ayat berikut:  “Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran. (QS. Ar-Ra’d/13:19). Dalam Firman Allah yang lain yaitu dalam QS. Az-Zumar/39:9 yang artinya: “…katakanlah, ‘Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran. Al Quran banyak menghimbau manusia untuk menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain kedua ayat diatas masih banyak lagi dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi yang diisyaratkan Al-Quran seperti dalam kedokteran, farmasi, pertanian, atau astronomi yang bermanfaat bagi kajuan dan kesejahteraan umat manusia.[4]
Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa dalam pendidikan Islam harus mengunakan Al Qur’an sebagai sumber utama dalam merumuskan beberapa teori tentang pendidikan islam. Atau dengan kata lain , pendidikan Islam harus berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an  yang penafsirannya dapat dilakukan berdasarkan ijtihad disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Pendidikan, memiliki peran strategis sebagai sarana human resources dan human investment. Selain bertujuan menumbuh kembangkan kehidupan yang lebih baik, pendidikan juga telah nyata-nyata ikut mewarnai dan menjadi landasan moral dan etik dalam prosespemberdayaan jati diri bangsa. Sedemikian pentingnya pendidikan, terutama pendidikan agama Islam, maka wajar jika hakekat pendidikan merupakan proses humanisasi, yang berimplikasi pada proses kependidikan dengan orientasi pengembangan aspek-aspek kemanusiaan manusia, yakni aspek fisik-biologis dan rohaniah-psikologis.Aspek rohaniah-psikologis inilah yang dicoba didewasakan dan di-insan kamil-kan melalui pendidikan sebagai elemen  positif  dalam  pembangunan  kehidupan  yang berkeadaban. Dari pemikiran ini, maka pendidikan merupakan tindakan sadar dengan tujuan memelihara dan mengembangkan  fitrah serta potensi (sumber daya) insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya ( insan kamil ).












C.     KESIMPULAN
Pendidikan, karena termasuk ke dalam usaha atau tindakan untuk membentuk manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup muamalah. Pendidikan sangat penting karena ia ikut menentukan corak dan bentuk  amal dan kehidupan manusia, baik pribadi maupun masyarakat. Didalam al-Quran terdapat banyak ajaran yang berisi prinsip-prinsip berkenaan dengan kegiatan atau usaha pendidikan itu sendiri.
Pendidikan, memiliki peran strategis sebagai sarana human resources dan human investment. Selain bertujuan menumbuh kembangkan kehidupan yang lebih baik, pendidikan juga telah nyata-nyata ikut mewarnai dan menjadi landasan moral dan etik dalam prosespemberdayaan jati diri bangsa.











DAFTAR PUSTAKA
Supardi, Ahmad. 1992. Sejarah dan Filsafat Pendidian Islam. Bandung: Angkasa.
Daradjat, Zakiah. 2008.Ilmu Pendidikan Islam,Jakarta:Bumi Aksara.
Fauziyah, Lilis dan Andi Setyawan.2009.Kebenaran Al-Quran dan Hadis,Solo,PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Aziz,Amka Abdul. 2012.Hati Pusat Pendidikan Karakter. Cempaka Putih, Klaten.
Departemen Agama RI. 2006.Al-Qur’an dan Terjemahnya. Pustaka Agung Harapan, Jakarta,






[1] Abudinnata, Filsafat Pendidikan Islam, hlm 101
[2]Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Pendidian Islam, (Bandung: Angkasa, 1992), h. 7
[3] Zakiah Daradjat,Ilmu Pendidikan Islam,Jakarta:Bumi Aksara,2008,hal.20
[4] Lilis Fauziyah dan Andi Setyawan,Kebenaran Al-Quran dan Hadis,Solo,PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri,2009,26

Tidak ada komentar:

Posting Komentar