LAPORAN
OBSERVASI
PROBLEMATIKA
PENDIDIKAN ISLAM
DI
MA AL-IKHSAN DAN MADRASAH DINIYAH RIYADLATUL MUTTAQIN

Laporan
Observasi Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah Kapita
Selekta Pendidikan Islam
Dosen Pengampu
: Rahman Afandi, M.S.I.
Oleh :
DIAN NAILI
MA’RIFAH
NIM :
1423305188
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
JURUSAN
PENDIDIKAN MADRASAH
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2017
A.
PENDAHULUAN
Pendidikan
merupakan salah satu aspek yang memiliki peran penting dalam kehidupan manusia.
Seiring berkembangnya zaman atau yang kita kenal dengan era globalisasi, yang
ditandai dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
tentunya berpengaruh terhadap kehidupan manusia, baik politik, ekonomi, sosial
dan budayanya, tentu semua hal tersebut erat kaitannya dengan pendidikan.
Pendidikan
berperan penting karena pada realitanya perkembangan yang ada pada kehidupan
saat ini membutuhkan pendidikan dan pemahaman yang seimbang. Bagaimana tidak,
perkembangan kehidupan di era saat ini akan semakin berkembang dan tentu setiap
orang perlu memiliki wawasan dan pengalaman yang makin berkembang juga. Dapat
dikatakan bahwa ketika seseorang tidak mampu mengembangkan pengetahuan dan wawasannya,
kekhawatiran yang dapat dimungkinkan terjadi yaitu ketertinggalannya pada
informasi yang berkembang serta terbawa arus (tergerus) oleh perkembangan
zaman.
Dari
hal tersebut, maka jelaslah bahwa pendidikan merupakan aspek penting dalam
kehidupan manusia. Bahkan Islam sangat besar perhatiannya terhadap pendidikan.
Sebagai bukti, setiap orang beriman telah diperintahkan oleh Allah untuk
mendidik dirinya sendiri dan para ahlinya masing-masing agar tidak tertimpa api
neraka.
Namun
demikian, pendidikan sendiri juga tidak terlepas dari berbagai problematika
atau permasalahan yang menimpanya, baik pendidikan pada umumnya atau pendidikan
islam pada khususnya. Terlebih lagi dengan perkembangan teknologi yang tentu
berpengaruh pada kehidupan manusia saat ini (era globalisasi).
Sejatinya
substansi sekolah adalah membangun tradisi literasi serta kemelekan terhadap
kehidupan ini. Sayangnya, pendidikan saat ini lebih memfokuskan pada hasil atau
nilai (tolok ukur kecerdasan; aspek kognitif) yang diperoleh selama proses
menempuh pembelajaran saja. Sedangkan sikap, perilaku, atau nilai-nilai
kepribadian baiknya kurang terfokuskan.
Di
samping itu juga tentunya masih banyak problematika yang terdapat dalam
pendidikan islam pada khususnya. Problematika pendidikan islam tentu oerlu kita
gali dan kita cari tahu tidak hanya pada jalur formal saja. Tetapi juga
pendidikan islam pada jalur non formal. Berkaitan dengan hal tersebut, maka
penulis mencoba melakukan observasi ke MA Al-Ikhsan Beji dan Madrasah Diniyah
Riyadlatul Muttaqin Dawuhanwetan.
B.
PEMBAHASAN
1.
Pendidikan
Islam
a.
Pengertian
Pendidikan Islam
Pendidikan
islam merupakan suatu proses mempersiapkan dan menumbuhkan peserta didik atau
individu manusia yang prosesnya berlangsung secara terus menerus sejak ia lahir
sampai ia meninggal dunia. Yang dipersiapkan dan ditumbuhkan dalam hal ini
meliputi aspek fisik (badan), akal serta rohaninya sebagai satu kesatuan tanpa
mengenyampingkan salah satu aspek dan melebihkan aspek yang lain. Proses
tersebut diarahkan agar ia menjadi manusia yang bermanfaat bagi dirinya sendiri
dan bagi umatnya serta dapat memperoleh suatu kehidupan yang sempurna. Prof.
Dr. Muh. Athiyah Al-Abrosyi menegaskan:[1]
اِÙ†َّ التَّرْبِÙŠَØ©َ الْØ®ُÙ„ُÙ‚ِÙŠَØ©َ Ù‡ِÙŠَ رُÙˆْØُ
التَّرْبِÙŠَØ©ِ الْاِسْلاَÙ…ِÙŠَّØ©ِ
Artinya: “Sebenarnya pendidikan akhlak itu adalah jiwa dari
pendidikan Islam.”
Pendidikan
Islam merupakan aktivitas yang disengaja dan bertujuan, yang di dalamnya
melibatkan berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut dalam prosesnya saling
berkaitan sehingga membentuk sistem yang saling mempengaruhi. Faktor-faktor
tersebut diantaranya dasar dan tujuan pendidikan Islam, pendidik, peserta
didik, alat dan metode, serta lingkungan.
b.
Dasar – dasar
Pendidikan Islam
Untuk
melaksanakan suatu upaya dalam proses mencapai tujuan harus ada dasar atau
landasan yang kuat agar jalannya proses atau upaya tersebut tidak mudah goyah
atau terombang ambing oleh suasana dari berbagai pergolakan yang ada. Begitu
pula dalam proses pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Dasar dalam pendidikan
Islam yaitu:
1)
Al-Iman, yang
kemudian dijabarkan dalam bentuk al arkanul iman (rukun-rukun iman).
2)
Al-Islam, yang
kemudian dijabarkan dalam bentuk al arkanul islam (rukun-rukun islam).
3)
Al-Ihsan, yang
kemudian dijabarkan dalam bentuk ajaran tentang taqorrub (mendekatkan diri pada
Allah).
Sedangkan
sumber atau norma pendidikan Islam adalah sumber-sumber yang memuat ketiga
dasar tersebut. Sumber atau norma tersebut yaitu:[2]
1)
Al-Qur’an, yang
mana merupakan kalam Allah yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad
saw. melalui perantara Malaikat Jibril yang diriwayatkan secara mutawatir,
sebagai pedoman umat manusia di dunia dan membacanya termasuk ibadah.
2)
Al-Hadis atau
Sunnah, yaitu segala hal yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. baik yang berupa
perkataan, perbuatan maupun ketetapannya.
3)
Ijtihad, yang
mana merupakan ijma’ dan qiyas, yaitu yang menjadi sumber hukum setelah
Al-Qur’an dan Hadis. Di mana ijma’ merupakan kesepakatan (konsensus) para ulama tentang suatu perkara setelah
wafatnya Nabi Muhammad saw. Sedangkan qiyas yakni menyamakan (analogi) suatu
perkara yang belum ada dalil pasti yang menyatakan hukumnya dengan perkara yang
sudah ada dalil pastinya karena ada persamaan illat.
c.
Tujuan
Pendidikan Islam
Apabila kita melihat definisi dari pendidikan Islam yang telah
dijabakan, akan terlihat dengan jelas bahwa di sana terdapat sesuatu yang
diharapkan terwujud setelah seseorang mengalami proses pendidikan Islam secara
keseluruhan. Adapun tujuan pendidikan Islam diantaranya:
1)
Terbentuknya
manusia yang bermanfaat, baik bagi dirinya maupun masyarakatnya
2)
Mempersiapkan
individu agar ia hidup dalam kehidupan yang sempurna, yaitu manusia yang
memiliki sifat “al-fadhilah” atau “insan kamil”
3)
Terbentuknya
manusia yang berpribadi muslim
2.
Kajian
Observasi
a.
MA Al-Ikhsan
Beji
1)
Sejarah
Berdirinya MA Al-Ikhsan Beji
MA Al-Ikhsan merupakan salah satu satuan pendidikan yang berada di
bawah yayasan Al-Ikhsan Beji, yang terletak di Komplek Pondok Pesantren
Al-Ikhsan Beji, kecamatan Kedungbanteng, kabupaten Banyumas.
Berdirinya MA Al-Ikhsan Beji tentu tidak lepas dari sejarah
berdirinya Pondok Pesantren Al-Ikhsan. Sejak berdirinya pesantren Al-Ikhsan
Beji Kedungbanteng pada tahun 1986, keberadaanya sudah dikenal luas oleh
berbagai kalangan masyarakat karena program plus atau program unggulannya yang
berupa Dwi Bahasa (bahasa Arab dan Inggris). Tidak jarang dari mereka yang
berasal dari luar daerah Jawa yang belajar di Pesantren Al-Ikhsan.
Adanya pesantren Al-Ikhsan Beji mengilhami pendirinya untuk
mendirikan Lembaga Pendidikan Formal. Pada tahun 1988 berdirilah Madrasah
Ibtidaiyah (MI) Al-Ikhsan sebagai Lembaga Pendidikan Formal pertama yang
berlokasi di sebelah barat pondok atau sekitar masjid. Setelah berjalan
beberapa tahun kemudian muncul gagasan
untuk mendirikan sekolah lanjutan tingkat pertama dengan alasan agar santri
tetap belajar di pesantren Al-Ikhsan, akhirnya pada tahun 1994 berdirilah
Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Ikhsan Beji.
Dalam kurun waktu berjalannya MTs Al-Ikhsan, muncul gagasan kembali
untuk mendirikan sekolah lanjutan tingkat akhir. Akhirnya setelah diadakan
rapat yayasan dan karena dukungan berbagai pihak, baik pikiran maupun materi,
maka berdirilah MA Al-Ikhsan Beji Kedungbanteng pada 25 April 1997. Suatu hal
yang mengejutkan sebagai sekolah yang baru berdiri, ternyata peminatnya cukup
besar dengan pendaftar angkatan pertama berjumlah 63 siswa. Di mana pada tahun
tersebut banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah kejuruan.
Meskipun menjadi sekolah yang baru berdiri, namun para siswa di MA
Al-Ikhsan dapat menuai prestasi yang baik. Pada tahun 1999/2000, MA Al-Iksan
memperoleh prestasi yang sangat menakjubkan. Di mana NEM tertinggi untuk
kelompok madrasah di wilayah kabupaten Banyumas, diraih oleh MA Al-Ikhsan Beji
dengan nilai 47,4. Hal itu tentu menjadi
suatu prestasi yang membanggakan dan bisa memacu supaya MA Al-Ikhsan ke
depannya mengalami perkembangan agar menjadi lebih baik.
2)
Visi dan Misi
Madrasah
Sebagai lembaga pendidikan Islam, tentunya MA Al-Ikhsan memiliki
tujuan atau orientasi yang berkaitan dengan tujuan penididikan Islam. Dalam
pelaksanaan pendidikannya, MA Al-Ikhsan Beji memiliki visi dan misi yang menjadi
ke-khas-an Al-Ikhsan, serta dapat menjadi semangat MA Al-Ikhsan untuk
senantiasa mengepakkan sayapnya dalam menghadapi perkembangan pendidikan.
Untuk mencetak insan kamil, MA Al-Ikhsan Beji memiliki visi “Unggul
dalam bahasa, Maju dalam berkarya, Berkembang dalam Agama dilandasi iman dan
taqwa”. Dari visi tersebut sangatlah jelas, bahwa MA Al-Ikhsan memiliki daya
tawar yang tinggi untuk lulusannya. Dan tentunya itu menjadi harapan agar
setiap siswa MA Al-Ikhsan tidak hanya fokus pada bidang keagamaan saja, tetapi
juga mampu menguasai bahasa dan senantiasa mengalami kemajuan dalam mengukir
karya. Dan semua itu tentu dilandasi dengan iamn dan taqwa.
Untuk mencapai visi madrasah tersebut, MA Al-Ikhsan memiliki misi:
a)
Menyiapkan
siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang Perguruan Tinggi
b)
Menyiapkan
siswa agar mampu mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan,
Teknologi dan Kesenian yang dijiwai ajaran agama Islam
c)
Memberikan
bekal keterampilan yang bermanfaat bagi siswa berupa keterampilan Bahasa Asing
dan Komputer yang bertujuan agar siswa dapat mengembangkan kehidupan sebagai
anggota masyarakat dan warga negara yang baik secara mandiri ataupun terjun ke
dunia kerja.
Di samping itu, MA Al-Ikhsan juga
memiliki program plus atau program unggulan yaitu berupa pembelajaran
Al-Qur’an, kajian ilmu agama, dan pengembangan bahasa Arab dan Inggris, yang berintegrasi
dengan kegiatan pondok pesantren Al-Ikhsan.
Dalam perkembangannya sebagai
lembaga pendidikan Islam formal, tentunya MA Al-Ikhsan tidak lepas dari
problematika atau permasalahan yang berkembang seiring dengan adanya
perkembangan zaman di era globalisasi ini. Di era yang makin berkembang ini, MA
Al-Ikhsan tentu memiliki tugas dan peran untuk senantiasa membentuk,
menumbuhkan dan melestarikan nilai-nilai islami pada diri setiap peserta
didiknya, di samping juga pada diri setiap pendidiknya.
Nilai-nilai islami pada diri
individu dapat kita lihat dan kita nilai dari sikap atau adabnya. Kita tidak
perlu meragukan lagi bahwa kedudukan adab (budi pekerti) memiliki kedudukan
yang luhur dalam ajaran agama Islam. Karena tanpa adab dan perilaku yang terpuji
maka apa pun bentuk amal ibadah yang dilakukan tidak akan diterima Allah SWT.
(sebagai suatu amal kebaikan), baik menyangkut amal qalbiyah (hati), badaniyah
(badan), qauliyah (ucapan), maupun fi’liyah (perbuatan).
Dengan demikian kita dapat memaklumi
bahwa salah satu indikator amal ibadah seseorang diterima atau tidak di sisi
Allah adalah melalui sejauh mana aspek adab (keluhuran budi pekerti) disertakan
dalam setiap amal perbuatan yang dilakukannya. Tak terkecuali juga dalam
kegiatan belajar mengajar yang di dalamnya terdapat interaksi antara seorang
guru dan murid.[3]
3)
Pembelajaran
Agama Islam di MA Al-Ikhsan
Lembaga pendidikan Islam formal,
tentu memiliki perbedaan dengan lembaga pendidikan pada umumnya. Jika pada
lembaga pendidikan umum mata pelajaran pendidikan agama Islam itu dijelaskan
secara global, maka di lembaga pendidikan Islam termasuk MA Al-Ikhsan Beji,
mata pelajaran pendidikan Islam dijelaskan lebih detail lagi dan dipecah ke
dalam beberapa mata pelajaran sesuai dengan tujuan dan substansi pembelajarannya.
Seperti Al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam dan Fiqih.
Serta tambahan mata pelajaran yang menjadi muatan lokal di MA Al-Ikhsan yaitu
mata pelajaran ke-NU-an atau Aswaja (Ahlussunnah Waljama’ah).
Pada realitanya, meskipun menjadi
lembaga pendidikan Islam formal, MA Al-Ikhsan juga mengalami kesulitan atau
permasalahan dalam hal input atau peserta didik yang terkadang sulit untuk
diarahkan dalam hal kepribadian atau sikap (adab). Hal ini tentu juga berkaitan
dengan perkembangan di era ini.
Pada perkembangannya, permasalahan
yang masih dihadapi oleh MA Al-Ikhsan sendiri yaitu terbatasnya sumber daya
pendidik, dan masih kurangnya pengetahuan dalam mengakses informasi terkait
jaringan dan juga koordinasi dengan pemerintah (dalam hal ini dapat dikatakan
dinas pendidikan). Terlebih lagi dengan statusnya yang masih swasta, MA
Al-Ikhsan kerap kali dianggap sebagai solusi terakhir bagi orang tua ketika
anaknya tidak dapat masuk di sekolah yang diidamkan.
Di samping permasalahan tersebut,
hal yang menjadi permasalahan di MA Al-Ikhsan yaitu input yang kurang menunjang
dikarenakan tidak jarang siswa MA Al-Ikhsan yang merupakan lulusan SMP sehingga
pengetahuan dan minat mereka dalam segi pendidikan Islam masih kurang. Selain
itu sistem penjagaan di MA Al-Ikhsan juga tidak memiliki penjagaan dan
pengawasan ketat, maka kerap terjadi peristiwa siswa yang kabur saat jam
pelajaran dan tingkat kedisiplinan mereka juga masih dapat dikatakan rendah.
Selain itu, dalam proses
pembelajarannya, sumber bacaan atau literasi di MA Al-Ikhsan sendiri masih
sangat minim. Meskipun perpustakaan yang ada sudah mengalami perbaikan, namun
buku-buku yang ada, khususnya yang menunjang pendidikan agama Islam juga masih
sangat terbatas. Ditambah lagi kurangnya minat baca dari siswa, serta dari
pendidikpun kurang memotivasi siswanya untuk membaca.
Dengan berbagai problematika yang
ada tersebut, MA Al-Ikhsan sampai saat ini selalu melakukan pembenahan dan
perbaikan, baik dari sisi sekolah, maupun dari sisi pendidik dan peserta
didiknya. Manajemen perubahan selalu memerlukan orang kreatif, proses kreatif,
dan produk kreatif. Proses perubahan tersebut tentunya memerlukan keterlibatan
dukungan dari semua pihak. Dukungan itu dapat menjadi motivasi yang luar biasa
bagi agen perubahan di lapangan. Jika strategi tersebut dapat dilaksanakan
secara utuh, maka resistensi terhadap perubahan yang selalu muncul dalam setiap
upaya perubahan akan dapat diminimalisir.[4]
Proses perubahan yang dilakukan juga
dapat dilihat dari pengembangan bakat dan minat siswa yang dilakukan dengan
mengadakan kegiatan ekstrakurikuler yang menarik. Di samping itu juga, pendidik
sendiri berusaha melakukan pembenahan dalam kegiatan belajar mengajarnya.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang dikaitkan dengan visi misi MA Al-Ikhsan sendiri, pendidik tentunya perlu
memahami relevansi metode pengajaran agama Islam dengan berbagai unsur, seperti
tujuan yang akan dicapai, bahan pelajaran yang menjadi isi proses, pelajar yang
aktif belajar, guru yang aktif membimbing siswa, metode belajar mengajar dan
situasi belajar. Dengan relevansi tersebut dimaksudkan supaya ada
kesesuaian atau keserasian metode
belajar mengajar dengan unsur-unsur tersebut.[5]
Dengan demikian, diharapkan MA
Al-Ikhsan ke depannya dapat menjadi lembaga pendidikan Islam formal yang dapat
mewujudkan dan mencetak para insan kamil yang mampu berdaya saing dengan dunia
luar dan tetap melandasi dirinya dengan iman dan taqwa.
b.
Madrasah
Diniyah Riyadlatul Muttaqin
1)
Sejarah
Berdirinya
Berdirinya Madrasah Diniyah Riyadlatul Muttaqin tentu tidak lepas
dari sejarah adanya masjid Al-Muttaqin di desa Dawuhanwetan. Masjid Al Muttaqin
sendiri berada di desa Dawuhanwetan tepatnya Rt 02 Rw 02. Masjid ini merupakan
masjid yang didirikan di atas tanah wakaf seluas 150 m2. Masjid
Al-Muttaqin sampai saat ini memiliki fasilitas yang makin berkembang dan
memadai.
Masjid ini merupakan tempat yang selain digunakan sebagai tempat
ibadah juga dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat. Di mana
tokoh ulama yang berperan dalam perkembangannya salah satunya yaitu beliau Kyai
Mudofir (alm.) dan Kyai Afif Saheri.
Pada tahun 1979, Kyai Afif Saheri yang berasal dari Rancamaya
Cilongok menikah dengan perempuan desa Dawuhanwetan, yaitu beliau ibu Nyai Siti
Mariyah binti Chaerudin (alm.). Setelah resmimenikahbeliau mengikuti jejak Kyai
Mudofir dengan mengadakan pengajian rutin dan mendirikan Tarbiyatul Hija’i.
Hingga akhirnya pada tahun 1993 beliau yang memprakarsai berdirinya masjid
al-muttaqin.
Dalam perkembangannya, beliau tidak ingin mendirikan pondok
pesantren, namun beliau bersikeras mendirikan Madrasah Diniyah. Hal
tersebut dikarenakan jika mendirikan
pesantren perhatian terhadap masyarakat
setempat akan tergeser dan lebih memfokuskan pada pesantren.
Akhirnya pada tahun 2004, beliau mengganti nama Tarbiyatul Hija’i
menjadi Madrasah Diniyah Riyadlatul Muttaqin dan mendirikan 3 lokal kelas.
Kemudian pada tahun 2010 melalui program PNPM-MPd dibangun 1 lokal kelas lagi
dan 1 ruangan administrasi.
2)
Pembelajaran di
Madrasah Diniyah Riyadlatul Muttaqin
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran di madrasah diniyah ini tidak
jauh berbeda dengan sistem pembelajaran di pondok pesantren. Mata pelajaran
yang diajarkan di madrasah diniyah ini disesuaikan dengan tingkat usia santri
dan kelas madin.
Mata pelajaran yang diajarkan diantaranya kajian tentang
kitab-kitab kuning tentang bab fiqih, al-qur’an, hadits dan nahwu shorof. Di
samping itu untuk kelas awal juga diajarkan tentang qiroati. Dan untuk
membekali kemampuan dari setiap santrinya, juga terdapat mata pelajaran bahasa
arab serta berbagai kegiatan yang mendukung skill setiap santri.
Misalnya kegiatan khitobah, hadroh dan pembacaan al-barzanji.
Dalam perkembangannya madrasah diniyah ini lambat laun makin
dikenal oleh banyak kalangan masyarakat dan dari berbagai desa. Hingga akhirnya
sampai saat ini, santri di madrasah diniyah riyadlartul muttaqin ini senantiasa
mengalami perkembangan dan pertambahan tiap tahunnya.
Madrasah diniyah riyadlatul muttaqin seiring berkembangnya waktu
juga mengalami permasalahan ynag dihadapi. Permasalahan yang masih menjadi
tugas bagi madin sendiri yaitu terbatasnya sumber daya pendidik (ustadz), serta
kurang koordinasi dengan pemerintah. Sehingga kerap kali terjadi kurang
sesuainya pelaksanaan tes dengan kurikulum yang ada di madin.
Dengan demikian, sangat diperlukan adanya pembenahan pada pendidik
sendiri. Baik dari kurikulum, pemahaman materi, serta metode dalam mengejar.
Hal ini agar bertujuan santri di madin senantiasa bersemangat dalam mengaji dan
memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda dengan mereka yang berada di
pesantren. Di samping itu juga perlu adanya pembenahan dalam koordinasi dan
komunikasi dengan dinas agama (pemerintah).
C.
PENUTUP
Adanya
perkembangan zaman tentu berpengaruh juga terhadap perkembangan pendidikan,
baik pendidikan umum maupun pendidikan Islam. Selain itu, di era globalisasi
ini kita juga perlu berusaha untuk bersikap terbuka namun tetap selektif
terhadap perkembangan yang ada. Tantangan pendidikan islam ke depan tentu akan
semakin kompleks.
Berbagai
problematika yang telah, sedang atau akan dihadapi tidak perlu dijadikan
sebagai bentuk kekhawatiran. Tetapi justru menjadi bahan acuan untuk selalu
melakukan pembenahan dan perbaikan. Tantangan ke depan bukan hanya mementingkan
intelektualitas saja, namun penting juga mempertahankan dan mengembangkan sisi
spiritualitas. Hal ini supaya setiap individu dapat membentengi diri dari
berbagai perkembangan yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Daradjat, Zakiah. 1996. Metodologi
Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Efendi, Nur. 2014. Manajemen
Perubahan di Pondok Pesantren Konstruksi Teoritik dan Praktik Pengelolaan
Perubahan sebagai Upaya Pewarisan Tradisi dan Menatap Tantangan Masa Depan.
Yogyakarta: Teras.
Kholil, Mohammad. 2007. Etika
Pendidikan Islam. Yogyakarta: titian wacana.
Nugroho, Hery dan Supriyanto. 2014. Ke-NU-an
Ahlussunnah Waljamaah. Semarang: LP Ma’arif NU Jawa Tengah.
Tauhied, Abu. 1990. Beberapa
Aspek Pendidikan Islam. Yogyakarta: Sekretariat Ketua Jurusan Fak. Tarbiyah
IAIN Sunan Kalijaga.
[1]H. Abu Tauhied
Ms, Beberapa Aspek Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Sekretariat Ketua
Jurusan Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, 1990), hlm. 13.
[2]Hery Nugroho
dan Supriyanto, Ke-NU-an; Ahlussunnah Waljama’ah, (Semarang: Lembaga
Pendidikan Ma’arif NU Jawa Tengah, 2014), hlm. 23-27.
[3]Mohammad Kholil
(ter.), Etika Pendidikan Islam, (Yogyakarta: titian wacana,
2007), hlm. xviii.
[4]Nur Efendi, Manajemen
Perubahan di Pondok Pesantren Konstruksi Teoritik dan Praktik Pengelolaan
Perubahan sebagai Upaya Pewarisan Tradisi dan Menatap Tantangan Masa Depan,
(Yogyakarta: Teras, 2014), hlm. 11.
[5]Zakiah
Daradjat, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,
1996), hlm. 258.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar