Minggu, 07 Mei 2017

1423305188

LAPORAN OBSERVASI
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM
DI MA AL-IKHSAN DAN MADRASAH DINIYAH RIYADLATUL MUTTAQIN
Description: D:\KOP SURAT BARU IAIN\KOP Surat\LOGO IAIN PURWOKERTO_WARNA.png








Laporan Observasi Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah Kapita Selekta Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Rahman Afandi, M.S.I.

Oleh :
DIAN NAILI MA’RIFAH
NIM : 1423305188

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN MADRASAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2017

 


A.      PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Seiring berkembangnya zaman atau yang kita kenal dengan era globalisasi, yang ditandai dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tentunya berpengaruh terhadap kehidupan manusia, baik politik, ekonomi, sosial dan budayanya, tentu semua hal tersebut erat kaitannya dengan pendidikan.
Pendidikan berperan penting karena pada realitanya perkembangan yang ada pada kehidupan saat ini membutuhkan pendidikan dan pemahaman yang seimbang. Bagaimana tidak, perkembangan kehidupan di era saat ini akan semakin berkembang dan tentu setiap orang perlu memiliki wawasan dan pengalaman yang makin berkembang juga. Dapat dikatakan bahwa ketika seseorang tidak mampu mengembangkan pengetahuan dan wawasannya, kekhawatiran yang dapat dimungkinkan terjadi yaitu ketertinggalannya pada informasi yang berkembang serta terbawa arus (tergerus) oleh perkembangan zaman.
Dari hal tersebut, maka jelaslah bahwa pendidikan merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Bahkan Islam sangat besar perhatiannya terhadap pendidikan. Sebagai bukti, setiap orang beriman telah diperintahkan oleh Allah untuk mendidik dirinya sendiri dan para ahlinya masing-masing agar tidak tertimpa api neraka.
Namun demikian, pendidikan sendiri juga tidak terlepas dari berbagai problematika atau permasalahan yang menimpanya, baik pendidikan pada umumnya atau pendidikan islam pada khususnya. Terlebih lagi dengan perkembangan teknologi yang tentu berpengaruh pada kehidupan manusia saat ini (era globalisasi).
Sejatinya substansi sekolah adalah membangun tradisi literasi serta kemelekan terhadap kehidupan ini. Sayangnya, pendidikan saat ini lebih memfokuskan pada hasil atau nilai (tolok ukur kecerdasan; aspek kognitif) yang diperoleh selama proses menempuh pembelajaran saja. Sedangkan sikap, perilaku, atau nilai-nilai kepribadian baiknya kurang terfokuskan.
Di samping itu juga tentunya masih banyak problematika yang terdapat dalam pendidikan islam pada khususnya. Problematika pendidikan islam tentu oerlu kita gali dan kita cari tahu tidak hanya pada jalur formal saja. Tetapi juga pendidikan islam pada jalur non formal. Berkaitan dengan hal tersebut, maka penulis mencoba melakukan observasi ke MA Al-Ikhsan Beji dan Madrasah Diniyah Riyadlatul Muttaqin Dawuhanwetan.
B.       PEMBAHASAN
1.      Pendidikan Islam
a.       Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan islam merupakan suatu proses mempersiapkan dan menumbuhkan peserta didik atau individu manusia yang prosesnya berlangsung secara terus menerus sejak ia lahir sampai ia meninggal dunia. Yang dipersiapkan dan ditumbuhkan dalam hal ini meliputi aspek fisik (badan), akal serta rohaninya sebagai satu kesatuan tanpa mengenyampingkan salah satu aspek dan melebihkan aspek yang lain. Proses tersebut diarahkan agar ia menjadi manusia yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan bagi umatnya serta dapat memperoleh suatu kehidupan yang sempurna. Prof. Dr. Muh. Athiyah Al-Abrosyi menegaskan:[1]
اِÙ†َّ التَّرْبِÙŠَØ©َ الْØ®ُÙ„ُÙ‚ِÙŠَØ©َ Ù‡ِÙŠَ رُÙˆْØ­ُ التَّرْبِÙŠَØ©ِ الْاِسْلاَÙ…ِÙŠَّØ©ِ
Artinya: “Sebenarnya pendidikan akhlak itu adalah jiwa dari pendidikan Islam.”
Pendidikan Islam merupakan aktivitas yang disengaja dan bertujuan, yang di dalamnya melibatkan berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut dalam prosesnya saling berkaitan sehingga membentuk sistem yang saling mempengaruhi. Faktor-faktor tersebut diantaranya dasar dan tujuan pendidikan Islam, pendidik, peserta didik, alat dan metode, serta lingkungan.

b.      Dasar – dasar Pendidikan Islam
Untuk melaksanakan suatu upaya dalam proses mencapai tujuan harus ada dasar atau landasan yang kuat agar jalannya proses atau upaya tersebut tidak mudah goyah atau terombang ambing oleh suasana dari berbagai pergolakan yang ada. Begitu pula dalam proses pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Dasar dalam pendidikan Islam yaitu:
1)      Al-Iman, yang kemudian dijabarkan dalam bentuk al arkanul iman (rukun-rukun iman).
2)      Al-Islam, yang kemudian dijabarkan dalam bentuk al arkanul islam (rukun-rukun islam).
3)      Al-Ihsan, yang kemudian dijabarkan dalam bentuk ajaran tentang taqorrub (mendekatkan diri pada Allah).
Sedangkan sumber atau norma pendidikan Islam adalah sumber-sumber yang memuat ketiga dasar tersebut. Sumber atau norma tersebut yaitu:[2]
1)      Al-Qur’an, yang mana merupakan kalam Allah yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantara Malaikat Jibril yang diriwayatkan secara mutawatir, sebagai pedoman umat manusia di dunia dan membacanya termasuk ibadah.
2)      Al-Hadis atau Sunnah, yaitu segala hal yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. baik yang berupa perkataan, perbuatan maupun ketetapannya.
3)      Ijtihad, yang mana merupakan ijma’ dan qiyas, yaitu yang menjadi sumber hukum setelah Al-Qur’an dan Hadis. Di mana ijma’ merupakan kesepakatan (konsensus)  para ulama tentang suatu perkara setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Sedangkan qiyas yakni menyamakan (analogi) suatu perkara yang belum ada dalil pasti yang menyatakan hukumnya dengan perkara yang sudah ada dalil pastinya karena ada persamaan illat.
c.       Tujuan Pendidikan Islam
Apabila kita melihat definisi dari pendidikan Islam yang telah dijabakan, akan terlihat dengan jelas bahwa di sana terdapat sesuatu yang diharapkan terwujud setelah seseorang mengalami proses pendidikan Islam secara keseluruhan. Adapun tujuan pendidikan Islam diantaranya:
1)      Terbentuknya manusia yang bermanfaat, baik bagi dirinya maupun masyarakatnya
2)      Mempersiapkan individu agar ia hidup dalam kehidupan yang sempurna, yaitu manusia yang memiliki sifat “al-fadhilah” atau “insan kamil”
3)      Terbentuknya manusia yang berpribadi muslim
2.      Kajian Observasi
a.       MA Al-Ikhsan Beji
1)      Sejarah Berdirinya MA Al-Ikhsan Beji
MA Al-Ikhsan merupakan salah satu satuan pendidikan yang berada di bawah yayasan Al-Ikhsan Beji, yang terletak di Komplek Pondok Pesantren Al-Ikhsan Beji, kecamatan Kedungbanteng, kabupaten Banyumas.
Berdirinya MA Al-Ikhsan Beji tentu tidak lepas dari sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al-Ikhsan. Sejak berdirinya pesantren Al-Ikhsan Beji Kedungbanteng pada tahun 1986, keberadaanya sudah dikenal luas oleh berbagai kalangan masyarakat karena program plus atau program unggulannya yang berupa Dwi Bahasa (bahasa Arab dan Inggris). Tidak jarang dari mereka yang berasal dari luar daerah Jawa yang belajar di Pesantren Al-Ikhsan.
Adanya pesantren Al-Ikhsan Beji mengilhami pendirinya untuk mendirikan Lembaga Pendidikan Formal. Pada tahun 1988 berdirilah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Ikhsan sebagai Lembaga Pendidikan Formal pertama yang berlokasi di sebelah barat pondok atau sekitar masjid. Setelah berjalan beberapa tahun kemudian  muncul gagasan untuk mendirikan sekolah lanjutan tingkat pertama dengan alasan agar santri tetap belajar di pesantren Al-Ikhsan, akhirnya pada tahun 1994 berdirilah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Ikhsan Beji.
Dalam kurun waktu berjalannya MTs Al-Ikhsan, muncul gagasan kembali untuk mendirikan sekolah lanjutan tingkat akhir. Akhirnya setelah diadakan rapat yayasan dan karena dukungan berbagai pihak, baik pikiran maupun materi, maka berdirilah MA Al-Ikhsan Beji Kedungbanteng pada 25 April 1997. Suatu hal yang mengejutkan sebagai sekolah yang baru berdiri, ternyata peminatnya cukup besar dengan pendaftar angkatan pertama berjumlah 63 siswa. Di mana pada tahun tersebut banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah kejuruan.
Meskipun menjadi sekolah yang baru berdiri, namun para siswa di MA Al-Ikhsan dapat menuai prestasi yang baik. Pada tahun 1999/2000, MA Al-Iksan memperoleh prestasi yang sangat menakjubkan. Di mana NEM tertinggi untuk kelompok madrasah di wilayah kabupaten Banyumas, diraih oleh MA Al-Ikhsan Beji dengan nilai 47,4. Hal  itu tentu menjadi suatu prestasi yang membanggakan dan bisa memacu supaya MA Al-Ikhsan ke depannya mengalami perkembangan agar menjadi lebih baik.
2)      Visi dan Misi Madrasah
Sebagai lembaga pendidikan Islam, tentunya MA Al-Ikhsan memiliki tujuan atau orientasi yang berkaitan dengan tujuan penididikan Islam. Dalam pelaksanaan pendidikannya, MA Al-Ikhsan Beji memiliki visi dan misi yang menjadi ke-khas-an Al-Ikhsan, serta dapat menjadi semangat MA Al-Ikhsan untuk senantiasa mengepakkan sayapnya dalam menghadapi perkembangan pendidikan.
Untuk mencetak insan kamil, MA Al-Ikhsan Beji memiliki visi “Unggul dalam bahasa, Maju dalam berkarya, Berkembang dalam Agama dilandasi iman dan taqwa”. Dari visi tersebut sangatlah jelas, bahwa MA Al-Ikhsan memiliki daya tawar yang tinggi untuk lulusannya. Dan tentunya itu menjadi harapan agar setiap siswa MA Al-Ikhsan tidak hanya fokus pada bidang keagamaan saja, tetapi juga mampu menguasai bahasa dan senantiasa mengalami kemajuan dalam mengukir karya. Dan semua itu tentu dilandasi dengan iamn dan taqwa.
Untuk mencapai visi madrasah tersebut, MA Al-Ikhsan memiliki misi:
a)      Menyiapkan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang Perguruan Tinggi
b)      Menyiapkan siswa agar mampu mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Kesenian yang dijiwai ajaran agama Islam
c)      Memberikan bekal keterampilan yang bermanfaat bagi siswa berupa keterampilan Bahasa Asing dan Komputer yang bertujuan agar siswa dapat mengembangkan kehidupan sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang baik secara mandiri ataupun terjun ke dunia kerja.
Di samping itu, MA Al-Ikhsan juga memiliki program plus atau program unggulan yaitu berupa pembelajaran Al-Qur’an, kajian ilmu agama, dan pengembangan bahasa Arab dan Inggris, yang berintegrasi dengan kegiatan pondok pesantren Al-Ikhsan.
Dalam perkembangannya sebagai lembaga pendidikan Islam formal, tentunya MA Al-Ikhsan tidak lepas dari problematika atau permasalahan yang berkembang seiring dengan adanya perkembangan zaman di era globalisasi ini. Di era yang makin berkembang ini, MA Al-Ikhsan tentu memiliki tugas dan peran untuk senantiasa membentuk, menumbuhkan dan melestarikan nilai-nilai islami pada diri setiap peserta didiknya, di samping juga pada diri setiap pendidiknya.
Nilai-nilai islami pada diri individu dapat kita lihat dan kita nilai dari sikap atau adabnya. Kita tidak perlu meragukan lagi bahwa kedudukan adab (budi pekerti) memiliki kedudukan yang luhur dalam ajaran agama Islam. Karena tanpa adab dan perilaku yang terpuji maka apa pun bentuk amal ibadah yang dilakukan tidak akan diterima Allah SWT. (sebagai suatu amal kebaikan), baik menyangkut amal qalbiyah (hati), badaniyah (badan), qauliyah (ucapan), maupun fi’liyah (perbuatan).
Dengan demikian kita dapat memaklumi bahwa salah satu indikator amal ibadah seseorang diterima atau tidak di sisi Allah adalah melalui sejauh mana aspek adab (keluhuran budi pekerti) disertakan dalam setiap amal perbuatan yang dilakukannya. Tak terkecuali juga dalam kegiatan belajar mengajar yang di dalamnya terdapat interaksi antara seorang guru dan murid.[3]
3)      Pembelajaran Agama Islam di MA Al-Ikhsan
Lembaga pendidikan Islam formal, tentu memiliki perbedaan dengan lembaga pendidikan pada umumnya. Jika pada lembaga pendidikan umum mata pelajaran pendidikan agama Islam itu dijelaskan secara global, maka di lembaga pendidikan Islam termasuk MA Al-Ikhsan Beji, mata pelajaran pendidikan Islam dijelaskan lebih detail lagi dan dipecah ke dalam beberapa mata pelajaran sesuai dengan tujuan dan substansi pembelajarannya. Seperti Al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam dan Fiqih. Serta tambahan mata pelajaran yang menjadi muatan lokal di MA Al-Ikhsan yaitu mata pelajaran ke-NU-an atau Aswaja (Ahlussunnah Waljama’ah).
Pada realitanya, meskipun menjadi lembaga pendidikan Islam formal, MA Al-Ikhsan juga mengalami kesulitan atau permasalahan dalam hal input atau peserta didik yang terkadang sulit untuk diarahkan dalam hal kepribadian atau sikap (adab). Hal ini tentu juga berkaitan dengan perkembangan di era ini.
Pada perkembangannya, permasalahan yang masih dihadapi oleh MA Al-Ikhsan sendiri yaitu terbatasnya sumber daya pendidik, dan masih kurangnya pengetahuan dalam mengakses informasi terkait jaringan dan juga koordinasi dengan pemerintah (dalam hal ini dapat dikatakan dinas pendidikan). Terlebih lagi dengan statusnya yang masih swasta, MA Al-Ikhsan kerap kali dianggap sebagai solusi terakhir bagi orang tua ketika anaknya tidak dapat masuk di sekolah yang diidamkan.
Di samping permasalahan tersebut, hal yang menjadi permasalahan di MA Al-Ikhsan yaitu input yang kurang menunjang dikarenakan tidak jarang siswa MA Al-Ikhsan yang merupakan lulusan SMP sehingga pengetahuan dan minat mereka dalam segi pendidikan Islam masih kurang. Selain itu sistem penjagaan di MA Al-Ikhsan juga tidak memiliki penjagaan dan pengawasan ketat, maka kerap terjadi peristiwa siswa yang kabur saat jam pelajaran dan tingkat kedisiplinan mereka juga masih dapat dikatakan rendah.
Selain itu, dalam proses pembelajarannya, sumber bacaan atau literasi di MA Al-Ikhsan sendiri masih sangat minim. Meskipun perpustakaan yang ada sudah mengalami perbaikan, namun buku-buku yang ada, khususnya yang menunjang pendidikan agama Islam juga masih sangat terbatas. Ditambah lagi kurangnya minat baca dari siswa, serta dari pendidikpun kurang memotivasi siswanya untuk membaca.
Dengan berbagai problematika yang ada tersebut, MA Al-Ikhsan sampai saat ini selalu melakukan pembenahan dan perbaikan, baik dari sisi sekolah, maupun dari sisi pendidik dan peserta didiknya. Manajemen perubahan selalu memerlukan orang kreatif, proses kreatif, dan produk kreatif. Proses perubahan tersebut tentunya memerlukan keterlibatan dukungan dari semua pihak. Dukungan itu dapat menjadi motivasi yang luar biasa bagi agen perubahan di lapangan. Jika strategi tersebut dapat dilaksanakan secara utuh, maka resistensi terhadap perubahan yang selalu muncul dalam setiap upaya perubahan akan dapat diminimalisir.[4]
Proses perubahan yang dilakukan juga dapat dilihat dari pengembangan bakat dan minat siswa yang dilakukan dengan mengadakan kegiatan ekstrakurikuler yang menarik. Di samping itu juga, pendidik sendiri berusaha melakukan pembenahan dalam kegiatan belajar mengajarnya.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dikaitkan dengan visi misi MA Al-Ikhsan sendiri, pendidik tentunya perlu memahami relevansi metode pengajaran agama Islam dengan berbagai unsur, seperti tujuan yang akan dicapai, bahan pelajaran yang menjadi isi proses, pelajar yang aktif belajar, guru yang aktif membimbing siswa, metode belajar mengajar dan situasi belajar. Dengan relevansi tersebut dimaksudkan supaya ada kesesuaian  atau keserasian metode belajar mengajar dengan unsur-unsur tersebut.[5]
Dengan demikian, diharapkan MA Al-Ikhsan ke depannya dapat menjadi lembaga pendidikan Islam formal yang dapat mewujudkan dan mencetak para insan kamil yang mampu berdaya saing dengan dunia luar dan tetap melandasi dirinya dengan iman dan taqwa.
b.      Madrasah Diniyah Riyadlatul Muttaqin
1)      Sejarah Berdirinya
Berdirinya Madrasah Diniyah Riyadlatul Muttaqin tentu tidak lepas dari sejarah adanya masjid Al-Muttaqin di desa Dawuhanwetan. Masjid Al Muttaqin sendiri berada di desa Dawuhanwetan tepatnya Rt 02 Rw 02. Masjid ini merupakan masjid yang didirikan di atas tanah wakaf seluas 150 m2. Masjid Al-Muttaqin sampai saat ini memiliki fasilitas yang makin berkembang dan memadai.
Masjid ini merupakan tempat yang selain digunakan sebagai tempat ibadah juga dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat. Di mana tokoh ulama yang berperan dalam perkembangannya salah satunya yaitu beliau Kyai Mudofir (alm.) dan Kyai Afif Saheri.
Pada tahun 1979, Kyai Afif Saheri yang berasal dari Rancamaya Cilongok menikah dengan perempuan desa Dawuhanwetan, yaitu beliau ibu Nyai Siti Mariyah binti Chaerudin (alm.). Setelah resmimenikahbeliau mengikuti jejak Kyai Mudofir dengan mengadakan pengajian rutin dan mendirikan Tarbiyatul Hija’i. Hingga akhirnya pada tahun 1993 beliau yang memprakarsai berdirinya masjid al-muttaqin.
Dalam perkembangannya, beliau tidak ingin mendirikan pondok pesantren, namun beliau bersikeras mendirikan Madrasah Diniyah. Hal tersebut  dikarenakan jika mendirikan pesantren  perhatian terhadap masyarakat setempat akan tergeser dan lebih memfokuskan pada pesantren.
Akhirnya pada tahun 2004, beliau mengganti nama Tarbiyatul Hija’i menjadi Madrasah Diniyah Riyadlatul Muttaqin dan mendirikan 3 lokal kelas. Kemudian pada tahun 2010 melalui program PNPM-MPd dibangun 1 lokal kelas lagi dan 1 ruangan administrasi.
2)      Pembelajaran di Madrasah Diniyah Riyadlatul Muttaqin
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran di madrasah diniyah ini tidak jauh berbeda dengan sistem pembelajaran di pondok pesantren. Mata pelajaran yang diajarkan di madrasah diniyah ini disesuaikan dengan tingkat usia santri dan kelas madin.
Mata pelajaran yang diajarkan diantaranya kajian tentang kitab-kitab kuning tentang bab fiqih, al-qur’an, hadits dan nahwu shorof. Di samping itu untuk kelas awal juga diajarkan tentang qiroati. Dan untuk membekali kemampuan dari setiap santrinya, juga terdapat mata pelajaran bahasa arab serta berbagai kegiatan yang mendukung skill setiap santri. Misalnya kegiatan khitobah, hadroh dan pembacaan al-barzanji.
Dalam perkembangannya madrasah diniyah ini lambat laun makin dikenal oleh banyak kalangan masyarakat dan dari berbagai desa. Hingga akhirnya sampai saat ini, santri di madrasah diniyah riyadlartul muttaqin ini senantiasa mengalami perkembangan dan pertambahan tiap tahunnya.
Madrasah diniyah riyadlatul muttaqin seiring berkembangnya waktu juga mengalami permasalahan ynag dihadapi. Permasalahan yang masih menjadi tugas bagi madin sendiri yaitu terbatasnya sumber daya pendidik (ustadz), serta kurang koordinasi dengan pemerintah. Sehingga kerap kali terjadi kurang sesuainya pelaksanaan tes dengan kurikulum yang ada di madin.
Dengan demikian, sangat diperlukan adanya pembenahan pada pendidik sendiri. Baik dari kurikulum, pemahaman materi, serta metode dalam mengejar. Hal ini agar bertujuan santri di madin senantiasa bersemangat dalam mengaji dan memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda dengan mereka yang berada di pesantren. Di samping itu juga perlu adanya pembenahan dalam koordinasi dan komunikasi dengan dinas agama (pemerintah).

C.      PENUTUP
Adanya perkembangan zaman tentu berpengaruh juga terhadap perkembangan pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan Islam. Selain itu, di era globalisasi ini kita juga perlu berusaha untuk bersikap terbuka namun tetap selektif terhadap perkembangan yang ada. Tantangan pendidikan islam ke depan tentu akan semakin kompleks.
Berbagai problematika yang telah, sedang atau akan dihadapi tidak perlu dijadikan sebagai bentuk kekhawatiran. Tetapi justru menjadi bahan acuan untuk selalu melakukan pembenahan dan perbaikan. Tantangan ke depan bukan hanya mementingkan intelektualitas saja, namun penting juga mempertahankan dan mengembangkan sisi spiritualitas. Hal ini supaya setiap individu dapat membentengi diri dari berbagai perkembangan yang ada.





DAFTAR PUSTAKA

Daradjat, Zakiah. 1996. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Efendi, Nur. 2014. Manajemen Perubahan di Pondok Pesantren Konstruksi Teoritik dan Praktik Pengelolaan Perubahan sebagai Upaya Pewarisan Tradisi dan Menatap Tantangan Masa Depan. Yogyakarta: Teras.
Kholil, Mohammad. 2007. Etika Pendidikan Islam. Yogyakarta: titian wacana.
Nugroho, Hery dan Supriyanto. 2014. Ke-NU-an Ahlussunnah Waljamaah. Semarang: LP Ma’arif NU Jawa Tengah.
Tauhied, Abu. 1990. Beberapa Aspek Pendidikan Islam. Yogyakarta: Sekretariat Ketua Jurusan Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga.



[1]H. Abu Tauhied Ms, Beberapa Aspek Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Sekretariat Ketua Jurusan Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, 1990), hlm. 13.
[2]Hery Nugroho dan Supriyanto, Ke-NU-an; Ahlussunnah Waljama’ah, (Semarang: Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Tengah, 2014), hlm. 23-27.
[3]Mohammad Kholil (ter.), Etika Pendidikan Islam, (Yogyakarta: titian wacana, 2007), hlm. xviii.
[4]Nur Efendi, Manajemen Perubahan di Pondok Pesantren Konstruksi Teoritik dan Praktik Pengelolaan Perubahan sebagai Upaya Pewarisan Tradisi dan Menatap Tantangan Masa Depan, (Yogyakarta: Teras, 2014), hlm. 11.
[5]Zakiah Daradjat, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 258.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar