PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM DI LEMBAGA-LEMBAGA
PENDIDIKAN FORMAL DAN NON FORMAL
(MA NEGERI KROYA DAN TPQ NURUL HUDA KROYA)

MAKALAH
Disusun guna memenuhi Tugas Mata Kuliah Kapita
Selekta Pendidikan Islam
Dosen Pegampu : Rahman Afandi, S. Ag. M, Si.
Oleh :
APRI PURWANTI (1423305184)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN MADRASAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PURWOKERTO
2017
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pendidikan
merupakan sesuatu hal yang sangat penting bagi seluruh umat manusia. Setiap
umat manusia harus mengalami suatu proses yang bernama pendidikan agar hidupnya
mempunyai pengetahuan dan arah yang pasti. Pendidikan mempunyai peran yang
sangat penting dalam kehidupan manusia
dan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia setiap waktu. Pendidikan
haruslah berjalan sebagaimana mestinya. Pendidikan yang berfungsi sebagai mana
mestinya akan menghasilkan sesuatu yang diharapkan dengan maksimal, sedangkan
pendidikan yang tidak berjalan sebagai mana mestinya maka tidak akan
tercapainya kemajuan yang di harapkan dan di cita-citakan. Setiap proses yang
dilakukan pasti akan mempunyai masalah dan akan mendapatkan kritik dan saran
yang membangun dari apa yang telah dipraktekan. Begitupula dengan
pendidikan.Setiap lembaga pasti mempunyai masalah atau problematika yang di
hadapi.Problematika yang dihadapi bisa berkaitan dengan semua aspek yang berada
di sekelilingnya.Problematika yang terjadi dalam dunia pendidikan biasanya
mengenai sesuatu yang berkaitan dengan pederta didik, pendidik, sarana dan
prasarana, dll.
Pendidikan
merupakan dasar dari setiap hal apapun itu.Semua berasal dari pendidikan dan
harus dilakukan dengan ilmu yang berasal dari pendidikan.Oleh karena itu
pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa pengertian dari
pendidikan islam?
2.
Apa tujuan pendidikan
islam?
3.
Apa saja problematika
pendidikan islam?
4.
Bagaimana solusi
problematika pendidikan islam?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian
pendidikan islam
2.
Untuk mengetahui tujuan
pendidikan islam
3.
Untuk mengatahui
problematika pendidikan islam
4.
Untuk mengetahui solusi
problematika pendidikan islam
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
pendidikan islam
Pendidikan merupakan bagian dari suatu pengajaran.
Pengajaran berasal dari kata belajar yang merpakan bagian dari suatu proses
pendidikan yang mencakup totalitas keunggulan manusia sebagai hamba dan
pemakmur alam agar senantiasa bersahabat dan selalu memberikan kemanfaatan bagi
umat manusia[1].
Istilah pendidikan dalam konten islam pada umumnya mengacu kepada term
al-tarbiyah, al ta;dib dan al-ta’lim. Al-tarbiyah berasal dari kata
rabb.Mengandung pengertian dasar yang menunjukan makna tumbuh, berkembang,
memelihara, mengatur, menjaga kelestarian atau eksistensinya. Secara filosofis
mengisyaratkan bahwa proses pendidikan islam adalah bersumber pada pendidikan
yang diberikan Allah SWT sebagai pendidik seluruh ciptaanya termasuk manusia.
Dalam konteks lain, pengertian pendidikan islam yang terkandung dalam term
al-tarbiyah terdiri atas empat unsur pendekatan, yaitu[2] :
-
Memelihara dan
menjaga fitrah anak didik menjelang
dewasa (baligh)
-
Mengembangkan seluruh
potensi menuju kesempurnan
-
Mengarahkan fitrah
menuju kesempurnaan
-
Melaksanakan pendidikan
secara bertahap
Sedangkan
istilah al-ta’lim telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan
islam. Menurut para ahli al-ta’lim lebih universal daripada al-tarbiyah dan
al-ta’dib. Rasyid Ridha mengatakan bahwa al-ta’lim sebagai proses transmisi
berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan
tertentu. Makna al-ta’lim tidak hanya terbatas pada pengertian lahiriyah,
tetapi mencakup pengetahuan teoritis.Dan yang terakhir adalah al-ta’dib.
Menurut al-Attas istilah yang palling tepat untuk menunjukan pendidikan islam
adalah Al-ta’dib. Al-ta’dib merupakan pengenalan dan pengakuan yang secara
berangsur-angsur ditanamkan kedalam diri manusia tentang tempat-tempat yang
tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan.
Secara
terminologi, para ahli pendidikan islam telah merumuskan pengertian pendidikan
islam, yaitu :
1. Al-syaibany
mengemukakan bahwa pendidikan islam adalah proses megubah tingkah laku individu
peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitar.
2. Muhammad
Fadhil al-Jamaly mengatakan bahwa pendidikan islam sebagai upaya mengembangkan,
mendorong, serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi
dalam kehidupan yang mulia
3. Ahmad
D Marimba menyatakan bahwa pendidikan islam adalah bimbingan atau pimpinan
secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta
didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (insan kamil)
4. Ahmad
tafsir menyatakan bahwa pendidikan islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh
seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran islam
Dari beberapa pengertian menurut para
ahli dapat disimpulkan bahwa pendidikan islam adalah suatu system yang
memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai
dengan ideologi islam.
B.
Tujuan
Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan islam tidaklah selalu paten di
dalam perkembangan islam. Tujuan pendidikan islam pada abad pertama hijriyah
berbeda dengan tujuan pendidikan islam pada abad ke-4 misalnya. Oleh karena
itu, tujuan dan sasaran pendidikan islam mengalami perkembangan dari abad-abad
berikutnya menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi kehidupan masyarakat islam.
Pada hakikatnya tujuan pendidikan islam bersumber dari aliran rasionalisme dan
keagamaan yang diikuti oleh para pendidik muslim. Akibatnya pandangan
pendidikan yang mereka ikuti dalam pengajaran saling berbeda sesuai aliran
paham mereka.Misalnya paham Al-Qabisi berpendapat bahwa tujuan pendidikan
adalah mengetahui ajaran agama baik secara ilmiah maupun amaliah.Al-Qabisi
merupakan ulama ajli fiqih dan tokoh dari ulama ahli sunah wal
jama’ah.Sedangkan ibnu maskawih berpendpt bahwa tujuan pendidikan adalah
tercapainya kebajikan, kebenaran, dan keindahan.Ikhwan as-safa cenderung
berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan paham filsafat dan
akidah politik yang di anutnya.Sedangkan menurut Al-ghazali, bahwa tujuan
pendidikan adalah melatih para pelajar untuk mencapai makrifat kepada Allah SWT
melalui jalan tasawwuf yaitu dengan mujahadah dan riyadhah. Jadi tujuan
pendidikan selalu bersumber dari apa yang telah di anutnya.
Dengan berbagai macam tujuan pendidikan yang telah
dikemukakan oleh para ahli, dapat disimpulkan bahwa ada dua macam tujuan
pendidikan yaitu :
1. Tujuan
Keagamaan
Tujuan keagamaan adalah bahwa setiap pribadi orang
muslim beramal untuk akherat atas petunjuk dan ilham keagamaan yang benar, yang
tumbuh dan dikembangkan dari ajaran-ajaran islam yang bersih dan suci. Tujuan
keagamaan mempertemukan diri pribadi terhadap Tuhannya melalui kitab-kitab suci
yang menjelaskan tentang hak dan kewajiban, sunah da yang fardhu bagi seorang
mukallaf. Tujuan ini menurut pandangan pendidikan islam dan para pendidik
muslim mengandung essensi dan makna yang penting dalam kaitannya dengan
pembinaan kepribadian individual. Maka dari itu, agama mengarahkan tujuannya
kepada pencapaian makrifat tentang kebenaran yang haq, yaitu tabaraka wa
ta’ala. Disamping itu tujuan keagamaan mengandung makna yang luas yaitu suatu
petunjuk jalan yang benar dimana setiap pribadi muslim mengikutinya dengan
ikhlas sepanjang hayatnya dan juga masyarakat manusia berjalan secara
manusiawi.
Dengan demikian agama sebenarnya memberikan berbagai
topic-topik pembahasan, diantaranya pembahasan dari sudut falsafah, misalnya
agama berusaha memberikan analisis yang benar terhadap permasalahan wujud alam
semesta dan tujuannya, dan agama menetapkan garis dan menjelaskan jalan-jalan
kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat dan problem-problemnya.
Jika kita mendalami maka dari tujuan keagamaan
pendidikan islam, maka dapat dikatakan bahwa tujuan itu menyikapkan kepada
sejauh mana kedekata ilmu pengetahuan dengan agama. Kedekatan itu memperkuat
adanya bukti bahwa sesungguhnya agama dalam pemikirannya menggunakan ilmu
pengetahuan dan ketetapan serta keputusan yang mengajak kepada penemuan yang
benar guna memuaskan akal fikiran.Oleh karena itu dapat dikatakan baha agama adalah
dogmatika dan rasional dan ilmu pengetahuanitu juga haq.
2. Tujuan
keduniaan
Tujuan keduniaan sesuai dengan tujuan pendidikan
modern yang saat ini di arahkan kepada pekerjaan yang berguna untuk
mempersiapkan anak menghadapi kehidupan kehidupan masa depan. Tujuan ini
dikuatkan oleh aliran paham pragmatisme yang dipelopori oleh ahli filsafat John
William Kilpatrick.Para ahli filsafat pendidikan pragmatism mengarahkan
pendidikan anak kepada geraka amaliah (ketrampilan) yang bermanfaan bagi
pendidikan.Pada zaman saat ini, tujuan ini mengambil kebijakan baru yang lebih
menonjolkan kecekatan bekerja yang cepat didalam setiap peristiwa kehidupan[3].
Dalam
merumuskan tujuan pendidikan Islam, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu[4];
1. Tujuan
dan tugas manusia di muka bumi, baik secara vertical maupun horizontal.
2. Sifat-sifat
dasar mansia.
3. Tuntutan
masyarakat dan dinamika peradaban kemanusian.
4. Dimensi-dimensi
kehidupan ideal Islam.Dalam aspek ini,setidaknya ada 3 macm dimensi ideal
Islam, yaitu;(a) mengandung nilai yang berupaya meningkatkan kesejahteraan
hidup manusia di mka bumi.(b) mengaung niai yangmendorng manusia berusaha keras
untuk meraih kehidupan yang baik.(c) mengandung nilai yang dapat memadukan
antara kepentingan kehidupan dunia dan akhirat ( fi ai-dunya hasab wa fi
al-akhirat al-hasanah).
Berdasarkan batasan diatas, para ahli pendidikan
(muslim)mencoba mermuskan tujuan pendidikanIslam. D antaranya Islam adalah
mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat. Sementara tujuan akhir yang akan
dicapai adalah mengembangkan fItrab pesrta didik,baik ruh, pisik,kemauan, dan
akalya secara dinmis, sehingga akan terbentuk pribadi yang utuh dan mendukung
bagi pelaksanaan fungsinya sebagai kahlifah fi al- ardh. Pedekatan tujuan ini
memiliki makna, bahwa upaya pendidikan Islam adalah pembinaan pribadi muslim
sejati yang mengabdi dan merealisasikan “kehendak”tuhan sesuai dengan syariat
islam, serta mengisi tugas kehidupannyadi dunia dan menjadikan akhirat sebagai
tujuan utama penddikannya. Secara praktis, Muhammad Athiyah al-Abrasyi
menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan islam terdiri atas lima sasaran, yaitu :
-
Membentuk akhlak mulia
-
Mempersiapkan kehidupan
dunia dan akhirat
-
Persiapan untuk mencari
rizki dan memelihara dari segi manfaatnya
-
Menumbuhkan semangat
ilmiah di kalangan lingkungan peserta didik
-
Mempersiapkan tenaga
yang professional yang terampil
Menurut
Muhammad Fadhil al-Jamaly, tujuan pendidikan islam menurut al-quran meliputi:
-
Menjelaskan posisi
peserta didik sebagai manusia di antara makhluk Allah lainnya dan tanggung
jawabnya dalam kehidupan ini
-
Menjelaskan hubungannya
sebagai makhluk sosial dan tanggung jawabnya dalam tatanan kehidupan
bermasyarakat
-
Menjelaskan hubungan
manusia dengan alam dan tugasnya untuk mengetahui hikmah penciptaan dengan cara
memakmurkan alam semesta
-
Menjelaskan hubungannya
dengan Khaliq sebagai pencipta alam semesta
Dari konsep tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa
da dua kematian yang perlu di realisasikan dalam praktek dunia pendidikan islam
yaitu, dimensi dialektika horizontal dan dimensi ketundukan vertical. Dimensi
dialektika horizontal pendidikan islam hendaknya mengembangkan realitas
kehidupan. Sedangkan dalam dimensi ketundukan vertical mengisyaratkan bahwa
pendidikan selain seagai alat untuk memelihara , memanfaatkan, dan melestarikan
sumberdaya alami, juga hendaknya menjadi sarana untuk memahami fenomena
kehidupan dalam upaya mencapai hubungan yang baik dengan sang pencipta.
C.
PROBLEMATIKA
PENDIDIKAN ISLAM DI LEMBAGA FORMAL DAN NON FORMAL
Problematika
merupakan berbagai persoalan yang belum dapat terselaisaikan, hingga terjadi
suatu kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang dihadapi dalam proses
pendidikan. Probematika sangatlah
macam-macam sesuai dengan kondisi keadaan masing-masing lembaga yang sedang
dihadapi.Problematika yang terjadai dalam dunia pendidikan dipengaruhi oleh dua
factor yaitu factor internal dan factor eksternal.Factor internal maksudnya
adalah bahwa problematika yang terjadi itu berasal atau muncul dari dalam
lingkungan pendidikan itu, misalnya mulai dari kurikulum yang digunakan, metode
dan strategi yan digunakan, kualitas SDM yang ada, biaya pendidikan,
dll.Sedangkan factor eksternal maksudnya adalah bahwa problematika yang terjadi
berasal dari luar lingkungan pendidikan itu sendiri, misalnya ilmu pengetahuan
teknologi yang salah digunakan, tidak adanya hubungan yang baik antara lembaga
pendidikan dengan pemerintahan, dan lain-lain[5].Contoh
problematika yang sedang terjadi di suatu lembaga antara lain:
1. PROBLEMATIKA
PENDIDIKAN ISLAM DI LEMBAGA FORMAL (MA NEGERI KROYA)
a.
Profil MA Negeri kroya
MA
Negeri Kroya adalah sekolah SMA Negeri yang terletak di jalan cimanuk desa
karangmangu kecamatan kroya kabupaten cilacap dengan menggunakan agama islam
sebagai pegangan pendidikan agamanya dan bernaung dibawah Depag (departemen
keagamaan). MA Negeri kroya berdiri sejak 17 maret 1990.Terdapat tiga jurusan
di MA Negeri Kroya yaitu jurusan IPA, jurusan IPS, dan Jurusan Agama.Terdapat
sekitar 50 pengajar dan karyawan di MA Negeri Kroya.Dalam perkembangan zaman,
sekolah yang berbasis agama kurang diminati oleh masyarakat, tetapi MA Negeri
Kroya mampu menunujkan eksistensinya dengan membuktikan prestasi-prestasi yang
telah didapatnya.Setiap siswa dibekali dengan ilmu agama selain ilmu umum yang
sudah pasti didaptkannya dalam mencari ilmu. Bakat dan kemampuan peserta
didikpun diasah dengan berbagai ekstrakulikuler yang terdapat di MA Negeri
Kroya yang beraneka ragam, antara lain :
-
Pramuka
-
PMR
-
Hadroh
-
Marawais
-
Olahraga
-
Silat
-
KIR (Karya Ilmiah
Remaja)
-
Drum band, dll
b.
Problematika pendidikan
di MA Negeri Kroya
Dari hasil observasi yang saya lakukan,
dapat diperoleh data dan informasi bahwa terdapat berbagai problem dalam proses
belajar mengajar yaitu yang pertama siswa kurang menyadari bahwa dirinya
sekolah di sekolah yang berpegang pada
keagamaan. Seringkali kali siswa bertingkah laku tidak sesuai aturan.Kerudung
yang seharusnya menutupi aurat tidak digunakan sebagaimana mestinya.Kurang
disiplinnya siswa terhadap halapapun itu. Dalam proses belajar mengajar, saat
pertama kali masuk sekolah, siswa baru banyak siswa yang kurang bisa membaca
al-quran dengan baik dan benar mungkin dikarenakan banyak siswa baru yang
bersal dari SMP umum bukan dari MTS. BTA siswa masih banyak yang kurang baik
dan benar. MA Negeri kroya mewajibkan
kepada siswa untuk setoran hafalan suratan-suratan yang terdapat dal Al-quran
jus 30 yang dilakukan secara bertahap mulai dari kelas X, berlanjut ke kelas XI,
dan terakhir berlanjut ke kelas XII sudah harus khatam jus 30. Dalam setoran
hafalan banyak siswa yang kurang dalam menghafal suratan yang terdapat dalam
jus 30.Selain dari siswanya, terdapat problematika yang berasal dari gurunya
yaitu rendahnya kualitas guru yang mengajar. Guru dalam proses pembelajaran
tidak menggunakan tata cara yang baik dan benar sesuai kurikulum yang ada
tetapi dalam mengajarkan materi menggunakan cara semaunya sendiri. Dari segi
sarana dan prasarana juga terdapat suatu problem yaitu kurangnya alat peraga
atau alat bantu proses pembelajaran yang kurang lengkap, gedung atau ruangan
yang masih bercampur untuk satu laboratorium mata pelajaran yang satu dengan
yang lain, dll.
c.
Cara atau solusi untuk
mengatasi problematika yang terdapat di MA Negeri kroya
Cara untuk mengatasi berbagai
problematika yang terdapat di MA Negeri Kroya antara lain:
·
Meningkatkan kualitas
guru dengan cara guru mengikuti berbagai pelatihan yang ada seperti KKG, MGMP,
dll
·
Harus adnya peraturan
yang kuat dan ketat hukumannya agar siswa jera dan tidak mau mengulangi
kesalahannya lagi
·
Pihak sekolah harus
menyediakan alat atau sarana prasarana yang baik dan lengkap agar siswa mampu
belajar dengan maksimal dan mencapai hasil yang terbaik
·
Guru harus mampu
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dengan baik
·
Bagi guru, lakukanlah
pendekatan yang baik terhadap setiap individu siswa
·
Lakukan secara terus
menerus hal yang mampu mengakibatkan kebiasaan baik siswa
·
Dari semua pihak baik
itu guru, siswa, kepala sekolah, dll harus selalu bekerja sama dengan baik,
harus ktif dan harus kreatif agar dapat terus berkembang ditengah perkembangan
zaman seperti ini.
2. PROBLEMATIKA
PENDIDIKAN ISLAM DI LEMBAGA NON FORMAL (TPQ NURUL HUDA)
a.
Profil TPQ Nurul Huda
TPQ Nurul Huda merupakan sebuah lembaga
non formal tempat menuntut ilmu dan belajar mengaji yang berada di desa
karangmangu tepatya jl.cimanuk RT 07 RW 03 desa karangamangu kecamatan kroya
kabupaten cilacap.TPQ Nurul Huda meupakan TPQ atau tempat belajar mengaji yang
didirikan tahun 2015 oleh masyarakat sekitar lingkungan desa karangmangu
diabwah naungan MA Negeri Kroya. Terdapat kurang lebih sekitar 7 pengajar di
TPQ Nurul Huda ini. Dari waktu ke waktu
semakin banyak anak-anak yang ingin belajar mengaji di TPQ Nurul huda ini. Tpq
nurul huda mempunyai 3 kelas dimana setiap kelas terdapat dua pengajar. Kelas
pertama terdiri atas anak-anak yang masih belajar membaca, iqro 1, iqro 2 dan
iqro 3.Kelas kedua terdiri dari anak-anak yang sudah iqro 4 dan iqro 5. Kelas
ketiga terdiri atas anak yang sudah iqro 6, jus ;ama, dan al-quran. Setiap akan kenaikan iqro akan diuji terlebih
dahulu oleh ketua yayasan tpq nurul huda. Selain ilmu agama yang diajarkan oleh
tpq nurul huda, ilmu umum juga di ajarkan. Pada hari selasa terdapat materi
belajar Bahasa inggris bagi setiap anak dengan tujuan agar anak mampu berbahasa
inggris agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. TPQ Nurul Huda semakin
menunjukan kiprahnya dengan baik
b.
Problematika pendidikan
di TPQ Nurul Huda
Setiap lembaga pendidikan pasti punya
problematika atau masalah masing-masing.Begitu pula dengan TPQ Nurul Huda.
Problem yang terdapat dalam tpq nurul huda hamper sama dengan lembaga lembaga
non formal khususnya tpq tpq lainnya. TPQ NURUL Huda yang di dominasi oleh
anak-anak sangatlah menimbulkan beraneka ragam persoalan, antara lain kurang
bisa seriusnya siswa dalam konsntrasi belajar mengaji. Bermain adalah dunianya
bagi anak-anak dimanapun berada, begitu pula saat mengaji mereka lebih asyik
bermain karena senang bertemu dengan banyak teman-temannya. Jika anak belum
bisa sama sekali membaca iqro atau huruf hijaiyah, itu merupakan tugas bagi
seorang pengajar untuk mengajarkan cara membaca agar anak mampu mengerti huruf
hijaiyah. Pastilah terasa susah, karena harus memulai dari 0 belum lagi untuk
mengarkan cara penulisan huruf hijaiyah. Untuk yang iqro iqro atas seperti iqro
5 dan 6 pengajar harus mampu mengajarkan dengan tepat dan benar makhroj atau
tajwid agar bacaanya tepat agar tidak salah untuk bekal masa yang akan datang.
Hal ini juga mampu menimbulkan problematika atau permasalahan dari sisi
pengajarnya.Disini dibutuhkan benar-benar pengajar yang tidak hanya mampunyai
otak yang cerdas tapi mempunyai kesabaran yang luar biasa.Pengajar harus
mempunyai ilmu pengetahuan yang baik dan luas serta sifat sabar yang sangat
besar. Sarana di TPQ Nurul huda juga belum lengkap masih sedikit dan belum
berkontribusi dengan baik sarana prasarana itu.
c.
Cara atau solusi untuk
mengatasi problematika yang terdapat di TPQ Nurul Huda
Ada berbagai cara yang dapat digunakan
untuk mengatasi persolan persoalan yang sudah terjadi di TPQ Nurul Huda, antara
lain :
·
Guru atau pengajar
harus mempunyai wawasan yang luas
·
Guru atau pengajar
harus mempunyai sifat sabar yang sangat besar dan sikap penyayang
·
Guru tidak boleh pilih
kasih
·
Harus dilakukan
pendekatan secara lebih khusus dan intensif terhadap anak-anak
·
Guru harus mempunyai
kesan yang baik di mata anak-anak
·
Harus ada hubungan atau
komunikasi yang baik dengan orang tua si anak agar guru mampu mengetahui
kondisi psikis anak
·
Harus menyediakan
fasilitas dan sarana prasarana yang lengkap agar mencapai hasil yang maksimal
Dari
hasil observasi tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap masalah yang terjadi di
lembaga-lembaga pendidkan baik formal dan non formal berbeda beda sesuai dengan
kondisi keadaan masing-masing lembaga hanya saja masalah yang dihadapi antara
satu lembaga dengan lembaga lain banyak yang hampir sama. Masalah yang sering terjadi antara lain:
·
Rendahnya kualitas guru
·
Masalah yang berkaitan
dengan sarana dan prasarana
·
Masalah yang berkaitan
dengan ilmu pengetahuan dan teknologi
·
Masalah yang berkaitan
dengan peserta didik
D.
Solusi
problematika pendidikan islam
Pendidikan merupakan suatu dasar bagi segala
hal.Indonesia harus mampu menciptakan dan menyediakan pendidikan yang baik dari
semua hal bagi rakyat Indonesia. Indonsia harus mampu melakukan reformasi dalam
proses pendidikan dengan maksud dan tujuan agar pendidikan Indonesia lebih maju
lagi. Pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta
didik mengembangkan potensi yang dimiliknya.Berbagai program pendidikan harus
di perbarui agar lebih fresh dan mempunyai banyak inovasi.Dari segi SDM (Sumber
Daya Manusia) pun harus selalu di tingkatkan kualitasnya.Ukuran kualitas atau
tidaknya suatu sekolah adalah relative karena tolak ukur ukuran kualitas selalu
berubah dari di era perubahan zaman.Terdapat banyak factor yang dapat
mempengaruhi naik turunnya kualitas suatu sekolah[6].Harus
ada kerjasama yang baik dari berbagai pihak agar suatu tujuan pendidikan dapat
terlaksana dengan baik.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat diambil
kesimpulan bahwa :
1. pendidikan
islam adalah suatu system yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat
mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi islam
2.
para ahli pendidikan
(muslim) merumuskan tujuan pendidikan Islam yaitu mempersiapkan kehidupan dunia
dan akhirat. Sementara tujuan akhir yang akan dicapai adalah mengembangkan
fItrab pesrta didik,baik ruh, pisik,kemauan, dan akalya secara dinmis, sehingga
akan terbentuk pribadi yang utuh dan mendukung bagi pelaksanaan fungsinya
sebagai kahlifah fi al- ardh
3.
problematika yang
terjadi dalam lembaga sekolah yang satu pasti berbeda dengan lembaga sekolah
yang lain, karena persoalan yang terjadi bergantung pada kondisi dan keadaan
suatu lembaga. Problematika yang terjadai dalam dunia pendidikan dipengaruhi
oleh dua factor yaitu factor internal dan factor eksternal
4.
terdapat berbagai
solusi untuk mengatasi segala problematika yang terjadi dalam pendidikan islam.
Semua perubahan harus ada kerjama yang baik dari berbagai pihak baik itu
pendidik, peserta didik, sarana prasarana, pemerintah dan lainnya
B.
Saran
Penulis menyadari bahwa makalah yang telat dibuat
masih jauh dari kata sempurna.Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun dari para pembaca.Mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila
ada yang kurang berkenan dalam penyusunan makalah.Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi pembaca. Aamiin
DAFTAR PUSTAKA
Arifin.
1993. Kapita Selekta Pendidikan (Islam
dan Umum). Jakarata : Bumi Aksara.
Rasyidin
AL dan Samsul Nizar. 2005. Filsafat Pendidikan Islam). Jakarta : PT
Ciputat Press.
Rohmad,
Ali. 2009. Kapita Selekta Pendidikan.
Yogyakarta : Teras Komplek.
Roqib,
Moh. 2009. Ilmu Pendidikan Islam.
Yogyakarta : PT LKis Printing Cemerlang.
Sutrisno.2011. Pembaharuan Pengembangan Pendidikan Islam.Yogyakarta : CV. Diandra
Primamitra Media
[1]Moh. Roqib, ilmu pendidikan islam, (Yogyakarta : PT
LKiS Cemerlang, 2009), hlm. 13.
[2]Al-rasyidin dan H.
Samsul Nizar, filsafat pendidikan isla.(Jakarta:
PT Ciputat Press, 2005), hlm. 25-32.
[3]Arifin, perbandingan pendiikan islam, (Jakarta :
PT Rineka Cipta, 2002), hlm. 36-39.
[4]Al-rasyidin dan samsul
nizar, filsafat pendidikan islam,(Jakarta
: PT Ciputat Press, 2005), hlm. 35-38
[5]Arifin, kapita selekta pendidikan (islam dan umum), (Jakarta
: Bumi Aksara, 1993), hlm. 8-11.
[6]Ali rohmad, kapita selekta pendidikan, (Yogyakarta :
Teras Komplek, 2009), hlm. 26-27.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar